Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Asia Sidot: Orang Muda Harus Menjadi Garda Terdepan Menangkal Radikalisme

oleh
Adrianus Asia Sidot saat berikan materi 4 Pilar Kebangsaan di Pontianak.

PONTIANAK, KN – Keanekaragaman suku, bahasa dan budaya yang dimiliki Negara Indonesia memerlukan lem perekat yaitu Pancasila supaya menjadi salah satu dari empat tiang penyangga kedaulatan Republik Indonesia. Selain Pancasila para Founding Fathers Indonesia sudah meletakkan pondasi yang sangat penting dan harus tetap dihayati dan diamalkan yaitu UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ikadan NKRI.

Hal ini diungkapkan oleh anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Golkar, Adrianus Asia Sidot dalam acara Sosialisasi 4 Pilar yang digelar di Hotel Ibis Pontianak yang dihadiri oleh sejumlah perwakilan dari organisasi kepemudaan di Kalimantan Barat untuk berdiskusi dan memberikan motivasi betapa pentingnya mengamalkan 4 Pilar Kebangsaan. Sabtu, (6/5).

Pada kesempatan tersebut Adrianus mengatakan, salah satu tugas anggota DPR RI seperti yang diamanatkan UU adalah terus mensosialisasikan 4 Pilar Kebangsaan ke semua lapisan masyarakat supaya negara Indonesia tetap mampu bertahan dan kokoh berdiri terhadap gempuran paham intoleransi dan kelompok-kelompok radikal yang ingin memisahkan diri dari NKRI.

“Orang muda harus mau terus belajar dan siap menghadapi perubahan jaman jika tak ingin terpinggirkan,” kata Adrianus Asia Sidot.

Ia nenilai, kemajuan teknologi yang pesat membawa banyak manfaat tetapi sekaligus juga ancaman. Untuk itu orang muda sebagai generasi penerus tongkat kepemimpinan Indonesia harus memiliki kesadaran akan pentingnya4 Pilar Kebangsaan.

“Dan yang lebih penting lagi menjadikan 4 Pilar Kebangsaan menjadi nafas dalam kehidupan sehari-hari. Ini penting penting sekali untuk menangkal pihak-pihak yang ingin menghancurkan NKRI demi kepentingan pribadi maupun kelompok,” tegas Adrianus.

Dikatakannya, sebagai negara dengan ribuan pulau dan jutaan penduduk serta memiliki keberagaman suku dan budaya, Indonesia memang rentan dipecah belah. Terbukti sebelum Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia mengalami penjajahan selama ratusan tahun.

Ia berpendapat, bahwa hal Itu memungkinkan karena bangsa Indonesia mudah diadu domba karena belum memiliki alat pemersatu bangsa. Belajar dari pengalaman sejarah, maka founding fathers Indonesia sudah menyiapkan 4 Pilar Kebangsaan sebagai alat pemersatu bangsa. Dan itu terbukti, NKRI tetap berdiri kokoh hingga saat ini.

“Namun kita tetap tak boleh lengah karena ancaman eksternal dan internal yang ingin NKRI ini runtuh tetap ada. Apalagi dengan kemajuan teknologi digital yang luar biasa. Untuk itu orang muda harus mau memahami dan mengamalkan Pancasila serta Pilar Kebangsaan lainnya,” kata Adrianus Asia Sidot.

Ia kembali menegaskan, jangan sampai orang muda Indonesia tidak hapal Pancasila. Karena kalau sila yang ada di dalam Pancasila saja tidak hapal bagaimana mau mengamalkannya di kehidupan sehari-hari.

“Sebagai calon pemimpin masa depan Negara Indonesia, orang muda harus bisa menjadi garda terdepan penjaga 4 Pilar Kebangsaan. Selain menjaga dan mengamalkan 4 Pilar Kebangsaan, tentu saja orang muda harus membekali diri dengan terus belajar dan memiliki kompetisi di bidang masing-masing. Baik melalui jalur pendidikan formal maupun informal. Dengan Sumber Daya Manusia berkualitas dan memiliki daya saing tinggi akan membuat negara Indonesia mampu menjadi negara maju dan kuat,” ujar anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Golkar tersebut.

Acara sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan yang diselenggarakan di Hotel Ibis Pontianak ini ditujukan untuk orang muda Kalimantan Barat digelar dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan Pemerintah mengingat pandemi Covid-19 memang belum berakhir.

Perwakilan organisasi yang hadir antara lain PMKR, GMNI, HMI, PMII, BEM IKIP PGRI, Pemuda Dayak Kalbar, GMKI, Forum Mahasiswa Dayak Kabupaten Sekadau, Formalak dan beberapa perwakilan dari Asrama Mahasiswa lainnya.

Di akhir acara, Adrianus Asia Sidot mengutip apa yang dilontarkan Peter Senge, “ You have to learn. If you don’t learn you don’t change, if you don’t change you will die.

“Kamu harus belajar. Jika kamu tidak belajar, kamu tidak akan bisa berubah. Jika kamu tidak berubah, maka kamu akan mati, ” tutupnya.