Suami “Hidung Belang” Ibu Rumah Tangga Rentan Tertular IMS, HIV dan AIDS

oleh

Penyakit kelamin atau dalam istilah bahasa Inggris disebut veneral diseases (VD) sudah lama dikenal. Beberapa di antaranya, sangat populer di Indonesia yaitu sifilis dan gonore. <p style="text-align: justify;">Seiring dengan perkembangan peradaban masyarakat, ditemukan penyakit-penyakit baru, sehingga istilah tersebut tidak sesuai lagi dan diubah menjadi sexually transmitted disease (STD) atau Penyakit Menular Seksual (PMS). <em><strong>(Hakim&Daili, 2009)</strong>. </em><br /><br />Perubahan istilah tersebut memberi dampak terhadap spektrum PMS yang semakin luas karena selain penyakit-penyakit yang termasuk dalam kelompok penyakit kelamin (VD) yaitu sifilis, gonore, ulkus mole, limfogranuloma venerum dan granuloma inguinale juga termasuk uretritis non gonore (UNG), kondiloma akuminata, herpes genitalis, kandidosis, trikomoniasis, bakterial vaginosis, hepatitis, moluskum kontagiosum, skabies, pedikulosis, dan lain-lain. Sejak tahun 1998, istilah STD mulai berubah menjadi STI (Sexually Transmitted Infection), agar dapat menjangkau penderita asimtomatik <strong><em>(Hakim&Daili, 2009)</em>. </strong><br /><br />STI  atau jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah Infeksi Menular Seksual (IMS). Insiden IMS dan penyebarannya seluruh dunia tidak dapat diperkirakan secara tepat. Beberapa negara menyebutkan bahwa pelaksanaan program secara intensif menurunkan insiden IMS atau paling tidak insidennya relatif tetap. <br /><br />Namun demikian, di sebagian besar negara, insiden IMS relatif masih tinggi dan setiap tahun beberapa juta kasus baru beserta komplikasi medisnya ditemukan antara lain: kemandulan, kecacatan, gangguan kehamilan, gangguan pertumbuhan, kanker bahkan juga kematian. Hal ini akan meningkatkan biaya kesehatan dan tentunya memerlukan perhatian khusus. <br /><br />Selain itu pola infeksi juga mengalami perubahan, misalnya infeksi klamidia, herpes genital, dan kondiloma akuminata di beberapa negara cenderung meningkat dibanding uretritis gonore dan sifilis. Beberapa penyakit infeksi sudah resisten terhadap Antibiotik, misalnya munculnya galur multiresisten Neisseria gonorrhoeae, dan Trichomonas vaginalis yang resisten terhadap metronidazole. Perubahan pola infeksi maupun resistensi tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi, seperti halnya Melakukan seks yang berisiko. <em><strong>(Hakim&Daili, 2009)</strong></em><br /><br /><strong>Perempuan Lebih Berisiko? </strong><br /><br />Penyebaran IMS di Indonesia hanya dipantau dari para Pekerja Sejs Komersial (PSK) saja, kalangan ibu rumah tangga yang tidak tahu apa-apa sangat rawan terkena penyebaran IMS ini. Kerawanan ibu rumah tangga ini tertular IMS berasal dari para suaminya yang suka ‘jajan atau laki-laki si hidung belang dan atau laki-laki melakukan seks berisiko”. <br /><br />Mengapa seorang perempuan sering tidak tahu dirinya terkena IMS? IMS disebabkan oleh lebih dari 30 bakteri, virus, parasit yang berbeda dan sebagian besar menyebar melalui hubungan seksual. IMS dapat menyebabkan penyakit kronis, HIV dan AIDS, komplikasi kehamilan, infertilitas, kanker leher rahim dan kematian. Di negara-negara berkembang infeksi dan komplikasi IMS adalah salah satu dari alasan utama tingginya angaka kesakitan. <br /><br />Berikut fakta yang menggambarkan IMS yang paling umum dan dampak penyebarannya. <br /><br /><strong>Pertama.</strong> Pada perempuan, masalah IMS seringkali terjadi di leher rahim. Jauh di dalam, sehingga tidak kelihatan dari luar. Seringkali IMS tidak menimbulkan rasa nyeri, maka seseorang tidak merasa dirinya telah terkena IMS. Sementara pada laki-laki, luka-luka di mulut saluran kencing atau di saluran kencing juga tidak selalu kelihatan atau tidak disertai rasa nyeri. <br /><br /><strong>Kedua.</strong> IMS adalah penyebab tersering kerusakan Tuba Fallopii yang sering menjadi penyebab kemandulan pada perempuan. Antara 10% sampai dengan 40% perempuan dengan infeksi klamidia yang tidak diobati tidak akan terserang penyakit radang panggul. <br /><br /><strong>Ketiga.</strong> Dalam kehamilan, sifilis dini yang  tidak diobati menjadi penyebab atas 1 dari 4 kelahiran prematur dan 14% dari kematian neonatal. Sekitar 4% sampai 15% perempuan hamil di Afrika positif untuk sifilis. Intervensi yang efektif pada perempuan hamil untuk mencegah penularan sifilis dari ibu-ke-anak bisa mencegah 492 000 kelahiran prematur di Afrika setiap tahunnya. <br /><br /><strong>Keempat.</strong> Salah satu infeksi menular seksual yang paling mematikan adalah infeksi oleh human papiloma virus (HPV). Hampir semua kasus kanker leher rahim disebabkan karena infeksi HPV. Kanker leher rahim adalah kanker kedua yang paling umum terjadi pada perempuan, dengan sekitar 500 000 kasus baru dan 250 000 kematian setiap tahunnya. Vaksin baru yang mencegah infeksi bisa mengurangi kematian yang disebabkan kanker serviks <em><strong>(http://dokterbagus.com/2012/05/16/fakta-fakta-mengenai-infeksi-menular-seksual/)</strong></em><br /><br />Pada perempuan, IMS seringkali tidak menunjukkan gejala. Meski gejalanya tidak ada dan tidak terasa sakit, IMS ini bisa ditularkan kepada orang lain. Termasuk para perempuan  yang mengidap HIV dan tertular oleh suaminya, tidak akan menunjukkan gejala sampai bertahun-tahun. Kita tidak bisa melihat apakah mereka sudah terinfeksi atau belum. Tidak ada gejala dan kelihatan sehat, mereka dapat menularkan HIV. <br /><br />HIV singkatan dari Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. HIV menyerang dan menghancurkan sistem kekebalan sehingga tubuh tidak mampu melindungi diri. Berbagai infeksi yang biasanya tidak berbahaya menjadi ancaman bagi kehidupan.<br /><br />Sedangkan AIDS singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah sekumpulan gejala penyakit yang mengakibatkan menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia yang disebabkan oleh virus HIV. Penderita AIDS meninggal bukan semata-mata disebabkan oleh virus, akan tetapi oleh penyakit lain yang biasanya tidak terlalu berbahaya menjadi mematikan karena sistem kekebalan tubuh kita sudah tidak berfungsi lagi.<br /><br />Seringkali, orang terkena HIV juga tidak tahu kalau dirinya sudah terkena, karena dia sendiri merasa sehat meski sudah terkena bertahun-tahun yang lalu. Hanya tes darah atau yang dikenal dengan nama Voluntary Counseling Test (VCT): Proses konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV secara sukarela yang bersifat confidential yang dapat menunjukkan apakah seseorang sudah terkena HIV atau belum. Parahnya lagi penderita yang berasal dari kalangan ibu rumah tangga ini kebanyakan telah ditinggal para suaminya. Rata-rata para suaminya ini telah meninggal dunia, sehingga hidup sendirian dengan anaknya. Tahunya ibu-ibu ini terjangkit virus HIV dan AIDS. <br /><br /><strong>Ibu Rumah Tangga</strong><br /><br />Kondisi tersebut cukup memprihatinkan karena masih banyak Ibu Rumah Tangga (IRT) yang tidak menyadari bahwa mereka rentan tertular HIV dan AIDS. Mereka tidak pernah melakukan hubungan intim dengan pria lain kecuali suami mereka sendiri. Lantas dari manakah mereka tertular penyakit tersebut? Tingginya kasus HIV dan AIDS pada Ibu Rumah Tangga ini karena mereka tertular dari suami yang sering “melakukan seks berisiko”. Sebagian besar Ibu Rumah Tangga tersebut tertular dari suami yang memiliki mobilitas tinggi. <br /><em><strong>(http://www.sindonews.com/read/2012/02/16/447/576640/ penderita-hiv-didominasi-ibu-rumah-tangga)</strong></em><br /><br />Budaya Patriarki yang sangat dijunjung tinggi pada negara ini memberikan streotipe tersendiri terhadap kaum perempuan dan memberikan penghormatan yang tinggi terhadap kaum laki-laki, di dalam masyarakat. Kita selalu terpatri bahwa seorang perempuan yang “baik” selalu dikaitkan dengan keperawanan, istri yang selalu mematuhi perkataan suami hingga pemberian nilai moral yang tinggi sedangkan perempuan yang “buruk” selalu dikaitkan dengan bergonta-ganti pasangan dan tidak bermoral. Sehingga menyebabkan munculnya stigma dan diskriminasi ketika Ibu Rumah Tangga tertular HIV dan bias gender antara laki-laki dan perempuan. <br /><br />Perempuan dengan HIV dan AIDS sering mendapat kesulitan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan termasuk pelayanan masalah kesehatan reproduksi. Tidak jarang stigma dan diskriminasi dilontarkan oleh teman, keluarga, petugas kesehatan, dan masyarakat. Padahal  mereka sangat membutuhkan dukungan psikologis dari lingkungan sekitarnya untuk menguatkan diri mereka menghadapi kenyataan bahwa mereka sudah tertular HIV. Masalah HIV dan AIDS pada Ibu Rumah Tangga tidak terfokus pada masalah si ibu saja tetapi juga pada anaknya, karena Ibu dengan HIV dan AIDS bisa menularkan penyakit tersebut kepada anaknya pada saat proses kehamilan dan kelahiran. <em><strong>(http://www.scribd.com/doc/57902388/Gender-Dan-Patriarki)</strong></em><br /><br />Penularan HIV dan AIDS dari suami ke istri itu dapat diminimalisir dengan memiliki kesadaran yang tinggi untuk saling menjaga perilaku seksual masing-masing individu. Sedangkan penularan dari Ibu ke anak dapat diminimalisir dengan pemberian terapi Antiretroviral (ARV) yang dikombinasikan dengan pemberian konseling makanan bayi dan metode pemberian makanan bayi, proses persalinan dengan operasi Caesar, serta menghindari pemberian ASI, walaupun ASI merupakan nutrisi terbaik untuk anak tetapi risiko penularan HIV dari ibu ke anak meningkat melalui pemberian ASI. Bagi Ibu dengan HIV positif sangat dianjurkan untuk mengganti ASI dengan susu formula untuk mengurangi risiko penularan kepada anak. Kendati demikian dalam pemberian susu formula pun harus memenuhi kebutuhan gizi anak, proses pembuatannya harus hygiene, dan biaya yang diperlukan harus dapat dijangkau oleh keluarga tersebut. <em><strong>(WHO PMTCT Guideline, 2010)</strong></em><br /><br />Saatnya Ibu Rumah Tangga untuk peduli dan waspada, IMS, penyakit HIV dan AIDS bisa menular pada siapa saja tanpa pandang bulu sekalipun tidak pernah melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan. Mulailah untuk membangun kesadaran dalam diri masing-masing dan menciptakan komunikasi yang efektif dengan pasangan (suami) dan jangan merasa malu untuk membahas masalah seksual. <strong>(*/phs)</strong><br /><br /><em><strong>(Penulis adalah Kepala Program Studi Kesehatan Masyarakat STIKes Kapuas Raya Sintang)</strong></em></p>