Sultan Sintang : Jangan Jadikan Pilkada Sebagai Simbol Etnis Dan Agama

oleh
oleh

Sultan Sintang HRM Ikhsani Perdana Ismail Tsafioeddin mengaku dirinya sangat merasa risau dengan berbagai isu yang dinilainya sangat menyesatkan serta dapat memicu ketidak kondusifan daerah menjelang Pemilukada pada september mendatang. <p style="text-align: justify;"><br />Hal tersebut disampaikannya dihadapan para tamu undangan, saat memberikan sambutan pada Haul-nya yang ke VI, Selasa malam (17/07/2012)<br /><br />“Isu-isu tersebut dapat menimbulkan gesekan antar etnis yang ada di Kalimantan Barat, khususnya dikabupaten Sintang,” ungkapnya.<br /><br />Untuk itu dirinya selaku Sultan Sintang, meminta kepada masyarakat kabupaten Sintang agar tidak mudah terpancing dengan polemik yang sengaja diciptakan oleh orang yang tidak menginginkan suasana damai yang sudah terjaga dengan baik selama ini.<br /><br />“Kita harus bertahan dengan kondisi yang kondusif selama ini. Jangan terprovokasi!” tegasnya.<br /><br />Lanjutnya,  suasana pemilukada apapun jenisnya dapat menjadi rentan dengan konflik apabila pemilukada tersebut dijerumuskan pada hal-hal yang sangat sensitif seperti suku/etnis dan agama.<br /><br />“Selama ini, simbol pilkada selalu dikaitkan kepada kemenangan ataupun kekalahan dari etnis serta agama tertentu. Padahal kita tidak memilih etnis ataupun agama tetapi seorang yang memang dinilai masyarakat layak untuk dipilih serta dimenangkan. Jadi kepada masyarakat jangan jadikan demokrasi langsung ini sebagai simbol etnis atau agama,” pintanya.<strong> (*)</strong></p>