Sungai Kering, Kios Siap-Siap Naikan Harga BBM

oleh

Hujan yang tidak mengguyur bumi Borneo sejak sebulan terakhir ini menyebabkan debit air sungai Kapuas menurun dratis. Bahkan di sejumlah titik, pasir mulai menyembul menjadi daratan. Seperti yang terlihat di muara pertemuan arus antara sungai kapuas dengan sungai Melawi di Sintang, kemudian sejumlah titik di aliran sungai Melawi. <p style="text-align: justify;">Menurunnya debit air sungai Kapuas ini menyebabkan lalu lintas angkut BBM melalui jalur sungai menjadi terhambat. Akhirnya BBM yang dibawa oleh tongkang pengangkut harus dibongkar di kota Sanggau, seperti musim kemarau tahun-tahun sebelumnya. <br />“Kalau kemarau begini, BBM pasti kita bongkar di Sanggau. Kalau untuk minyak tanah umumnya akan ditambah dengan biaya angkut sampai ke Sintang ini,”ungkap kepala depot pertaminan Sintang Sondang Lumban Raja belum lama ini. <br /><br />Dibongkarnya BBM di kota Sanggau kemudian diangkut ke Sintang ini dipastikan akan memicu kenaikan harga BBM. Khususnya di tingkat kios atau pedagang pengecer. <br />“Sudah biasa, kalau kemarau pasti harga BBM naik. Sekarang ini kami masih menjual Rp 6 ribu per liter. Tapi kalau yang memasok BBM ke kami menaikan harga, maka mau tidak mau kami juga harus naikan harga,”ungkap pakde, seorang pengecer BBM jenis premium yang mangkal di sekitar Jln.Oevang Oeray Sintang. <br /><br />Ditanya tentang berapa angka kenaikan harga BBM eceran yang akan ia jual, pria paruh baya ini mengatakan kenaikan harganya berkisar antara Rp 500 – Rp 1.000 per liternya. Artinya untuk setiap liter premium di naikan menjadi Rp 6.500 atau Rp 7.000 per liternya. <br /><br />“Setiap pengecer sudah siap naikan harga. Tinggal tunggu, apakah harga dari pemasok naik atau tidak. Kalau naik, pasti harga jualnya juga kita naikan,”tambahnya. <br /><br />Ditempat terpisah, Fari mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Sintang mengaku keberatan dengan naiknya harga BBM di tingkat eceran. Sebab ia lebih sering membeli BBM di eceran dari pada di SPBU. “Di SPBU itu ngantrinya yang tidak sanggup. Terkadang sudahlah lama kita mengantri, pas giliran tangki motor kita yang mau diisi, tiba-tiba petugas SPBU bilang bensinya habis. Makanya, saya terpaksa beli di eceran. padahal beda harganya per liter sampai Rp 1.500,”katanya. <br /><br />Sebagai mahasiswa menurutnya kenaikan harga BBM di eceran sangat berdampak bagi dirinya. Karena kenaikan BBM membuatnya harus meminta tambahan uang bensin kepada orang tuanya. Meski terkadang ia bisa mendapatkan pekerjaan sampingan, namun penghasilanya menurutnya belumlah mencukupi. “Kasihan sama orang tua kala harus minta kiriman terus. Jadi terpaksalah, mengurangi keinginan untuk berkendaraan. Kecuali yang sangat pentinglah,”jelasnya. <br /><br />Anggota DPRD Sintang dari partai Gerindra, Sandan mengatakan perbedaan harga BBM antara SPBU dan eceran memang sangat signifikant. Harga BBM subsidi di SPBU hanya bisa didapatkan oleh para  pengantri dan spekulan. Sementara mayarakat yang semestinya menjadi sasaran subsidi justru tak bisa menikmatinya. “Ini menjadi bukti bahwa program subsidi pemerintah itu masih salah sasaran. Penikmatnya  bukan masyarakat kalangan menengah ke bawah, tapi hanya para pengantri dan spekulan,”tegasnya.<br /><br /><br />Legislator dapil Serawai-Ambalau ini  mencontohkan, harga BBM dapilnya tersebut mencapai Rp 11-13 ribu perliter. Padahal di daerahnya yang masuk kategori  pedalaman termasuuk banyak masyarakat kurang mampu. Namun kenyataannya masyarakat di darahnya harus membeli BBM dengan harga lebih dari dua kali lipat dari harga subsidi. <br />“Pemerintah harus segera selesaikankan masalah ini. Bagus jangan disubsidilah BBM itu. Lebih baik hasil subsidi itu diperuntukan untuk pembangunan lainnya,”kata Sandan. <strong> (ast)</strong></p>