Supadio Perpendek Rute Penerbangan Ke Asia Timur

oleh
oleh

Jalur penerbangan dari Pontianak ke Kuching (Malaysia) dan Singapura sangat penting karena memperpendek rute-rute penerbangan ke negara-negara yang tergabung dalam kawasan ekonomi Asia Timur. <p style="text-align: justify;"><br />"Negara-negara yang masuk dalam Kawasan Ekonomi Asia Timur ini diantaranya Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina atau yang lebih dikenal dengan istilah East Asean Growth Area (BIMP-EAGA). Rute penerbangan ini juga akan memperkuat hubungan antara Kuching (Sarawak-Malaysia Timur) dan Kota Pontianak dan Kubu Raya (Kalbar-Indonesia) yang sudah terjalin selama ini," kata Kepala Bidang Perhubungan Udara Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi Provinsi Kalimantan Barat, Agustinus Edi Suharno, di Sungai Raya, Jumat.<br /><br />Menurutnya, berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan yang isinya antara lain, Bandar udara Internasional diatur dalam Pasal 256.<br /><br />Di pasal tersebut, Menteri Perhubungan menetapkan beberapa bandar udara internasional dengan mempertimbangkan rencana induk nasional bandar udara, pertahanan dan keamanan negara, pertumbuhan dan perkembangan pariwisata.<br /><br />Selain itu, kepentingan dan kemampuan angkutan udara Nasional serta pengembangan ekonomi nasional dan perdagangan luar negeri, di samping pertimbangan dari menteri terkait.<br /><br />Dimana, lanjut dia, ketentuan lebih lanjut mengenai bandar udara internasional diatur dengan Peraturan Menteri Perhubungan nomor KM 25 tahun 2009.<br /><br />"Nah, Bandara Supadio Pontianak ini kan sudah bertaraf internasional. Namun, belum memadai mengingat kondisi landasan pacu, kapasitas terminal penumpang dan kargo, serta fasilitas lainnya yang belum memadai," tuturnya.<br /><br />Makanya, ujar Agus, jika Kalbar bisa lebih mengembangkan ke negera tetangga yang tergabung dalam BIMP-EAGA, tiga sistem yang ada di bandara Supadio haruslah dibenahi diantaranya maskapai, bandara dan lingkungan sekitar.<br /><br />Namun yang paling penting adalah bandaranya yang harus memiliki standar internasional.<br /><br />"Contohnya maskapai Garuda Indonesia Airways, dimana pesawat Boeing 737-NG tidak bisa mendarat di Bandara Supadio Pontianak. Padahal, jika bandara ini berstandar internasional tentunya, Kalbar akan mendapat keuntungan yang lebih, diantaranya kerja sama pariwisata dan ekonomi," kata Agus.<br /><br />Saat ini, rute penerbangan di Bandara Supadio ke luar negara hanya ke Kuching (Malaysia) dan Singapura dengan maskapainya yakni Batavia dan Kal Star.<br /><br />Baru-baru ini, maskapai penerbangan Malaysia (MAS Wings) membuka rute Kuching-Pontianak. Namun, jika bandara supadio sudah memiliki kualitas berstandar internasional, bukan tidak mungkin kalau rute penerbangan ke Filipina dan Brunei Darussalam terealisasi.<br /><br />"Karena itu tadi, bisa meningkatkan perekonomian di Kalbar dan semakin banyak turis yang datang ke sini," katanya.<br /><br />Sementara untuk penerbangan pesawat perintis, Agus mengaku tidak bisa melalui rute-rute BIMP EAGA. Mengingat, rute-rute yang dilalui menggunakan pesawat komersil.<br /><br />"Pesawat perintis ini hanya untuk menjangkau daerah-daerah yang tidak bisa dilalui oleh jalan darat maupun laut," katanya.<br /><br />Agus mencontohkan, di Kalbar pesawat perintis rutenya adalah Putusibau ke Nangapinoh, Putusibau ke Sintang. Namun, jika rute Putussibau ke Pontianak atau Ketapang ke Pontianak, bukan menggunakan pesawat perintis, melainkan menggunakan pesawat komersil.<br /><br />Makanya, penerbangan perintis masih dibutuhkan di sejumlah wilayah kepulauan. Penerbangan ini dirasakan sangat membantu warga setempat untuk meningkatkan akses ke daerah luar.<br /><br />"Usaha penerbangan perintis dinilai masih layak secara bisnis. Tanpa pesawat perintis melalui jalan darat membutuhkan perjalanan yang sangat lama hingga mencapai 7 hingga 8 jam," kata Agus. <strong>(phs/Ant)</strong></p>