Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sintang, Buyung Sukowati mengatakan saat ini kegiatan survey sosial ekonomi nasional (Susenas) tinggal penyelesaian entri data, selanjutnya ada pendataan potensi desa (Podes), sensus sapi dan survey angkatan kerja Indonesia. <p style="text-align: justify;"><br />“Podes sedang berjalan, susenas menunggu rampung dan selanjutnya akan ada sensus sapi dan survey angkatan kerja nasional,” kata Buyung kepada kalimantan-news.<br /><br />Ia mengatakan dalam susenas, ada pertanyaan inti yang saat ini sudah rampung 100 persen dan modul yang capaian penyelesaiannya baru 75 persen.<br /><br />“Susenas mulainya 8 Maret lalu dengan menggunakan sistem sample yang ditetapkan dari pusat,” kata dia.<br /><br />Menurutnya, BPS pusta menetapkan ada 11 kecamatan yang masuk dalam area kerja susenas, sementara pemilihan rumah tangga yang akan disurvey menggunakan sampling random,” tukasnya.<br /><br />Ia mengatakan dari 11 kecamatan yang ditentukan pusat, kemudian diambil 16 desa secara keseluruhan.<br /><br />“Tiap desa diambil rumah tangga terpilih yaitu 10 rumah tangga per blok sensus sehingga keseluruhan ada 160 rumah tangga yang dijadikan sample survey,” imbuhnya.<br /><br />Saat ini menurutnya susenas sudah menjadi kegiatan rutin di BPS dan dilaksanakan tiap tiga bulan sekali.<br /><br />Sementara, untuk sensus sapi, ia mengatakan salah satu tujuan dari pelaksanaan sensus tersebut adalah untuk mendata jumlah ril sapi yang ada di Indonesia dalam kaitan program menuju swasembada daging sapi.<br /><br />“Yang didata adalah jumlah sapi perah, sapi potong dan kerbau, rencananya Juni sudah mulai dan pada Mei nanti akan ada pelatihan untuk petugasnya,” kata dia.<br /><br />Terkait data masyarakat miskin yang kemudian digunakan salah satunya untuk program bantuan beras bagi masyarakat miskin, menurutnya memang ada rencana untuk mendata ulang.<br /><br />“Sejumlah indikator bisa saja menunjukkan angka kemiskinan sudah mulai berkurang, namun tetap harus melalui proses pendataan,” jelasnya.<br /><br />Ia mengatakan pada dasarnya dalam pendataan masyarakat miskin, ada 14 indikator yang ditetapkan pemerintah.<br /><br />“Namun jika rumah tangga sudah masuk dalam 11 kategori saja, sudah bisa dikatakan miskin,” imbuhnya.<br /><br />Jika mengacu pada indikator miskin tersebut, selama ini tidak sedikit juga masyarakat yang masuk kategori miskin di Sintang dengan kondisi rumah yang kurang memadai tetapi mereka memiliki kendaraan bermotor dan sejumlah perangkat elektronik, namun Buyung mengatakan sebenarnya ada indikator utama menggolongkan sebuah rumah tangga dalam kategori miskin.<br /><br />“Yang diutamakan seperti tidak tamat sekolah dasar, punya aset tidak lebih dari Rp 600 ribu dan pendapatan perbulan tidak lebih dari Rp 500 ribu, paling tidak itu jadi indokator utamanya,” tukasnya.<br /><br />Menurutnya untuk melaksanakan berbagai bentuk survey atau sensus, BPS didukung oleh banyak tenaga baik yang tetap maupun mitra.<br /><br />“Di kecamatan kita ada koordinator statistik kecamatan, jika desa yang jadi sample survey lebih dari 15, maka selain melibatkan koordinator statistik kecamatan, kami juga melibatkan mitra yang selama ini sudah sering membantu tugas BPS melakukan pendataan,” pungkasnya. <strong>(phs)</strong></p>


















