Tarif Feri Penyeberangan Jembatan Bajarum Mencekik

oleh
oleh

Masyarakat yang menggunakan jasa penyebrangan Sungai Mentaya di sekitar Jembatan Bajarum Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah mengeluhkan tarif yang sangat mahal sehingga membebani masyarakat. <p style="text-align: justify;">"Tarif feri sangat mahal, ini sangat membebani. Pemilik feri jangan cuma mencari untung, tolong kasihani masyarakat karena ini benar-benar memberatkan," kata Ruji, warga Cempaga yang mengadakan perjalanan menuju Sampit, Senin.<br /><br />Usai insiden Jembatan Bajarum ditabrak tongkang pengangkut bijih besi pada Sabtu (21/12) dini hari, arus lalu lintas terganggu karena jembatan sepanjang 320 meter yang terletak di ruas jalan Trans Kalimantan Poros Selatan itu ditutup total.<br /><br />Untuk bisa melanjutkan perjalanan, kini masyarakat harus menaiki feri penyeberangan yang saat ini hanya tersedia untuk penumpang dan sepeda motor.<br /><br />Namun masyarakat mengeluh karena tarifnya sangat mahal yakni Rp 25.000 untuk pengendara beserta sepeda motornya.<br /><br />Vera, salah seorang pelajar dari Cempaga mengeluhkan hal yang sama. Untuk menuju sekolahnya di Sampit, dia harus menyiapkan uang Rp 50.000 untuk biaya feri penyeberangan saat berangkat dan pulang sekolah.<br /><br />Bagi seorang pelajar, biaya penyeberangan tersebut terlalu tinggi dan membebani. Apalagi, mereka harus bolak-balik menuju sekolah mereka di Sampit setiap hari menggunakan sepeda motor.<br /><br />Nidia, pelajar lainnya pun mengungkapkan hal serupa. Kini dia harus mengeluarkan ongkos sangat besar untuk menaiki feri penyeberangan ketika berangkat dari rumahnya di Desa Kandan menuju sekolahnya di Cempaga dan sebaliknya.<br /><br />Masyarakat meminta pemerintah daerah menuntut pihak perusahaan untuk menanggung biaya feri penyeberangan sehingga masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya saat beraktivitas menyeberangi sungai di kawasan Jembatan Bajarum.<br /><br />"Ini kan akibat ulah perusahaan, maka mereka harus bertanggungjawab. Jangan malah seperti ini, masyarakat yang akhirnya tersiksa karena menanggung biaya feri penyeberangan yang sangat mahal seperti ini," keluh Aga, warga lainnya. <strong>(das/ant)</strong></p>