Teknologi Informasi Di Perairan Indonesia Masih Kurang

oleh

Teknologi informasi untuk Sistem Peringatan Dini di tempat strategis di wilayah perairan masih kurang, kata Konsultan Bidang Pendidikan Keamanan Laut, Eddy Santono. <p style="text-align: justify;">"Bentuk dari Sistem Peringatan Dini berupa pembangunan RCC (Rescue Coordinating System) atau Sistem Koordinasi Pengamanan dan MRCC (Maritim Rescue Coordinating System) atau Koordinasi Pengamanan Perairan yang berfungsi untuk memberikan deteksi dan pengamanan," kata Santoso dalam forum grup diskusi di Pontianak, Rabu.<br /><br />Dia mengatakan, pentingnya Sistem Peringatan Dini di wilayah perairan Indonesia dikarenakan posisi Indonesia terletak pada jalur ekonomi, perdagangan dan lintas transit sehingga berpotensi menimbulkan ancaman faktual seperti pembajakan, sumber daya laut, pencurian ikan dan penyelundupan.<br /><br />"Sedangkan ancaman potensial, adanya nelayan dari negara lain yang memasuki wilayah perairan Indonesia" tambahnya.<br /><br />Dia menambahkan, dilihat dari posisi Indonesia yang sangat strategis maka dibutuhkan kecanggihan teknologi informasi yang berguna untuk melakukan deteksi dini terhadap pelanggaran di wilayah perairan, pemberian sanksi bagi pelanggar serta penegakkan hukum.<br /><br />Dalam forum diskusi tersebut disampaikan bahwa laut berfungsi sebagai sumber ekonomi, sebagai perekat penghubung pulau-pulau serta sebagai media pertahanan.<br /><br />"Untuk itulah kami meningkatkan pengamanan laut Bakorkamla dengan membentuk satgas di beberapa wilayah perairan seperti ALKI I (Selat Malaka) ALKI II (Selat Sunda) dan ALKI III (Selat Makassar)" katanya.<br /><br />Menurut dia, dalam menangani masalah perbatasan, Bakorkamla berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri dan Kementerian Luar Negeri. Untuk permasalahan keamanan berkoordinasi dengan pihak polisi dan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP). <strong>(phs/Ant)</strong></p>