Tim Ekspedisi Khatulistiwa Catat 28 Padi Meratus

oleh

Seorang peneliti yang tergabung dalam tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Koordinator Wilayah 08 Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, mencatat 28 varietas padi yang ada di Pegunungan Meratus. <p style="text-align: justify;">Dr Ir Abdul Haris Mustari, peneliti yang juga dosen Fakultas Kehutanan IPB Bogor, dalam surat elektroniknya kepada ANTARA Banjarmasin, Minggu, mengatakan bagi warga Dayak Meratus padi adalah tumbuhan sakral yang harus diperlakukan dengan baik.<br /><br />Menanam padi dimulai dari menyiapkan lahan, membersihkan dari semak belukar, membakar lahan pada puncak musim kemarau pada Juni-Agustus, hingga lahan siap ditanami padi pada bulan Oktiber ketika mulai musim hujan.<br /><br />Semua varietas padi disebut "banih", antara lain banih putih, siamunus, sabai, tampiko, buyung, salak, kihung, kunyit, kanjangan, briwit, dan banih saluang.<br /><br />Padi lainnya disebut banih banyumas, harang, wayan, banar, kalapa, uluran, ambulung, patiti, benyumbang, santan lilin, dan banih sabuk.<br /><br />Selain itu juga terdapat varietas padi lakatan atau pulut (ketan) seperti banih kariwaya, kalatan, harang, samad, dan banih saluang.<br /><br />Dari 28 varietas tersebut padi buyung dan padi arai yang paling banyak dikembangkan karena rasanya enak, padi ditanam di lahan kering di lembah atau lereng sampai kemiringan 60 derajat.<br /><br />Penanaman padi dilakukan secara gotong royong, sebelum penanaman terlebih dahulu dilakukan acara ritual yaitu membakar kemenyan sambil mengelilingi lahan dengan membaca mantra, tujuannya agar hasil panen melimpah.<br /><br />Menurut dia, penanaman padi ini dengan sistem tugal, yakni lahan diberi lubang lalu dimasukkan benih dan ditunggu sekitar enam bulan. Padi yang dikembangkan tanpa pupuk dan pestisida tersebut siap dipanen.<br /><br />Ia mengatakan, tim ekspedisi khatulistiwa melaksanakan penjelajahan dan penelitian mulai 11 April 2012 selama tiga pekan di sebelah selatan Pegunungan Meratus dengan objek penelitian dan penjelajahan di Gunung Tindihan, Gunung Paku, Gunung Periuk, balai adat Tamburasak dan balai adat Mancatur.<br /><br />Tim terdiri atas tim jelajah 2 sebanyak 13 orang dan tim peneliti 1 sebanyak 15 orang, sementara tim jelajah 1 sebanyak 11 orang dan tim peneliti 2 sebanyak 14 orang.<br /><br />"Daerah penjelajahan dan penelitian di Desa Kiyu, Datar Hampakan, Juhu, Batu Perahu, Sumbai, Hinas Kiri, dan Gunung Halau-halau," katanya.<br /><br />Sementara tim lainnya yang disebut Tim Komsos melaksanakan kegiatan sosial di taman pemakaman umum, Masjid Jami Al Mujahid Desa Besar, Kecamatan Batang Alai Selatan.<br /><br />Selain itu melakukan penanaman pohon di Natih, Kecamatan Batang Alai Timur, pengobatan massal di Desa Timan Kecamatan Batu Benawa, penanaman 1.000 pohon di Kabupaten Tapin, dan donor darah di Kodim 1002 Barabai. <strong>(phs/Ant)</strong></p>