Tingkat Kekeruhan Sungai Kahayan Melebihi Batas Normal

oleh

Tingkat kekeruhan air Sungai Kahayan sudah melebihi batas normal dari biasanya, setelah dilakukan analis melalui enam titik contoh air yang diambil dari sungai tersebut belum lama ini. <p style="text-align: justify;">"Berdasarkan hasil pemeriksaan, kekeruhan air di atas ambang batas normal karena Total Suspended Solid (TSS) dalam satuan mg/L mencapai 150, padahal normalnya pada angka 50 saja," kata Kepala Upt Laboratorium Badan Lingkungan Hidup Palangka Raya Andrie Manurung, di Palangka Raya, Selasa.<br /><br />Penyebab tingginya tingkat kekeruhan air sungai itu disebabkan saat ini kawasan setempat sedang mengalami musim kemarau, serta penurunan curah hujan membuat arus debit air sungai semakin surut dan kadar lumpur dalam air semakin tinggi.<br /><br />Ia mengatakan, berdasarkan data dari Juni – September, kondisi Sungai Kahayan masih kering dan arusnya melambat serta airnya sangat pekat. Akibatnya kandungan oksigen dalam air menjadi berkurang dan berpengaruh pada perkembangbiakan ikan.<br /><br />"Kami menduga tingginya tingkat kekeruhan air Sungai Kahayan selama musim kemarau disebabkan maraknya aktivifitas penambangan emas tanpa izin (Peti) yang dilakukan sebagian masyarakat di daerah hulu," ucapnya.<br /><br />Selain itu, Kepala BLH Palangka Raya Nuh Gufron Ahmad menambahkan, kekeruhan air Sungai Kahayan disertai kadar lumpur yang terkandung di dalamnya, akibat maraknya penambangan emas tanpa izin di daerah hulu yang hingga kini masih terjadi.<br /><br />"Kami mengingkatkan masyarakat, khususnya yang tinggal di pinggir sungai menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungannya, sebab yang merasakan dampaknya adalah generasi penerus kita apalagi air itu sampai dikonsumsi masyarakat, tentu membahayakan kesehatan," tambahnya.<br /><br />Beberapa waktu sebelumnya, akibat tingginya tingkat kekeruhan air tersebut ribuan ikan petani keramba yang ada di kawasan setempat mati, sehingga mengakibatkan kerugian di masa mendatang.<br /><br />Kalangan Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan Kota Palangka Raya menegaskan bahwa penyebab matinya ribuan ikan keramba itu akibat perubahan kondisi alam yang mengakibatkan debit air menurun sehingga oksigen dalam air berkurang.<br /><br />Oleh sebab itu, pihaknya menyarankan kepada petani keramba untuk mengurangi menebar benih ikan dalam musim kemarau sampai air Sungai Kahayan normal kembali. <strong>(phs/Ant)</strong></p>