Tiwah Dilestarikan Karena Dinilai Ritual Suci

oleh

Upacara Tiwah bagi suku Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng) dilestarikan karena bernilai ritual suci, khususnya bagi penganut agama Hindu Kaharingan. <p style="text-align: justify;">"Bagi penganut agama Hindu Kaharingan, upacara Tiwah merupakan ritual suci untuk mengantar arwah menuju ke surga dan wajib dilaksanakan," kata pemimpin ritual Tiwah atau Pisor, Osoh T Agan, di Sampit, Minggu (05/12/2010).<br /><br />Tanpa tiwah, orang yang sudah meninggal dunia dianggap tidak akan sempurna kematiannya dan tidak akan bisa masuk ke dalam surga atau yang biasa kami sebut dengan liu tatau dia rumpang tulang kamelusu uhat, tuturnya.<br /><br />Ia mengatakan, melaksanakan upacara Tiwah bukanlah termasuk pekerjaan yang mudah dan gampang karena diperlukan sebuah persiapan yang cukup panjang dan rumit serta biaya yang cukup besar.<br /><br />Rangkaian prosesi upacara Tiwah sendiri memerlukan waktu lama hingga satu bulan lebih lamanya dan pelaksanaannya harus dilakukan setiap hari.<br /><br />Menurut Agan, ritual Tiwah merupakan rukun kematian tingkat terakhir yang waktu pelaksanaannya tidak ditentukan atau bisa dilaksanakan kapan saja sesuai kesiapan keluarga yang ditinggalkan.<br /><br />Sebelum upacara Tiwah dilaksanakan, katanya, terlebih dahulu harus digelar ritual lain yang dinamakan upacara Tantulak.<br /><br />Upacara Tantulak adalah untuk mengantar arwah yang meninggal dunia menuju Bukit Malian, dan disanalah ia menunggu diberangkatkan bertemu dengan Ranying Hattaala Langit atau tuhannya umat Kaharingan, sampai keluarga yang masih hidup menggelar upacara Tiwah.<br /><br />"Tempat tersebut bisa juga dikatakan Bukit Malian atau alam rahim, tempat suci dimana manusia tinggal sebelum lahir ke dunia. Di alam itulah orang yang meninggal dunia menunggu sebelum diberangkatkan menuju surga melalui upacara Tiwah," katanya.<br /><br />Puncak acara tiwah ini sendiri nantinya adalah memasukan tulang-belulang ke dalam rumah panggung berukuran kecil yang biasa disebut dengan sandung , sebelum dimasukan tulang belulang yang digali dari kubur terlebih dahulu harus dibersihkan atau disucikan melalui ritual khusus.<br /><br />Pada acara puncak itu dilakukan penumbakan hewan-hewan kurban berupa kerbau, sapi, serta babi yang tujuannya adalah untuk persembahan leluhur.<br /><br />Sementara Ari Dewar warga Desa Rubung Buyung, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur yang melaksanakan upacara Tiwah untuk almarhum ayahandanya Dewar I A Bajik yang meninggal sekitar 12 tahun silam mengatakan, pelaksanaan upacara Tiwah akan berlangsung selama 40 hari.<br /><br />Upacara Tiwah ini nantinya akan diikuti sebanyak 21 jenazah dengan hewan persembahan kerbau tujuh ekor, sapi enam ekor dan babi 30 ekor dengan total biaya ritual hampir mencapai satu miliar.<br /><br />"Pelaksanaan upacara Tiwah sudah berlangsung sejak minggu kedua bulan November 2010 lalu dan acara puncak atau memasukan tulang ke dalam sandung akan dilakukan pada pada Sabtu (11/12/2010) mendatang," jelasnya.<br /><br />Menurut Ari Dewar, keluarga yang masih hidup adalah orang yang bertanggungjawab serta berkewajiban untuk menyelenggarakan upacara Tiwah, selain itu ritual ini juga sebagai bukti kecintaan keluarga terhadap leluhur.<br /><br />"Siapa lagi yang akan mengantarkan leluhur agar bisa masuk surga kalau bukan keluarga yang masih hidup karena ini adalah ajaran agama Kaharingan yang dianut almarhum orangtua kami, kalau secara pribadi sekarang kami tidak lagi menganut kepercayaan agama Keharingan," ucapnya.<strong> (phs/Ant)</strong></p>