Tomas Minta Produk Ikan Kaleng Makarel Ditarik Peredarannya

oleh
ilustrasi

MELAWI- Berdasarkan temuan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), ada 27 daftar produk ikan makarel kalengan yang positif mengandung parasit cacing. Meskipun begitu, sejumlah toko dan swalayan di Nanga Pinoh diketahui masih menjual produk ikan kaleng makarel, padahal sebelumnya telah ditetapkan mengandung cacing. Kondisi ini menimbulkan keresahan warga, mengingat produk makarel kalengan ini terselip di antara produk ikan sarden kalengan yang juga dijual bebas di etalase toko.

“Seharusnya berdasarkan temuan BPOM, instansi terkait harus turun langsung menarik semua peredaran barang makanan yang mengandung cacing itu, karena dikhawatirkan masyarakat awam yang tidak tahu justru membelinya,” kata seorang tokoh masyarakat Melawi, Noor Haz, beberapa hari lalu.

Lebih lanjut Ia mengatakan, dinas terkait harusnya memonitor peredaran barang makanan yang mengadung cacing di setiap pasar khususnya Kota Nanga Pinoh. Karena hal ini juga sudah dilakukan oleh kabupaten atau daerah lain. “Kita minta Pemda Melawi atau instansi terkait segera menindaklanjuti persoalan ini. Paling tidak segera mengimbau para pemilik toko agar tidak memajang dan menjual barang-barang itu,” tegasnya.

Ia menegaskan, langkah itu demi mencegah masyarakat menjadi korban karena mengkonsumsi barang tersebut. “Karena bila sudah mengandung cacing tentunya makanan ini sudah tak layak lagi untuk dikonsumsi masyarakat,” ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat lebih waspada terhadap apa yang akan dikonsumsinya. Apalagi kabar mengenai persoalan itu sejak beberapa hari lalu sudah cukup marak. “Penjual juga harusnya sejak beberapa hari lalu sudah tidak menjualnya lagi,” ucapnya.

Langkah yang harus diambil Pemda, tambahnya, tentu tidak sekadar di wilayah perkotaan saja. Namun harus sampai ke desa-desa di pedalaman karena menurut dia makanan kalengan tersebut tentu juga beredar di daerah pedalaman. “Kejelasan dari Dinas Perdagangan juga diperlukan terkait produk makarel kalengan apa saja yang masih beredar dan masuk dalam kategori mengandung cacing,” katanya.

Anggota Komisi III DPRD Melawi, Heri Iskandar mengatakan, instansi terkait, baik Dinas Perdagangan, Dinas Kesehatan, maupun Satgas Pangan bisa mengambil langkah untuk menggelar inspeksi terkait kemungkinan masih beredarnya ikan makarel kalengan yang masuk dalam daftar BPOM karena mengandung cacing.  Inspeksi diperlukan agar produk kemasan ikan kaleng ini dapat diketahui ada atau tidak yang beredar di Melawi.

“Secara khusus saya memang belum menerima laporan dari masyarakat berkaitan dengan produk ikan kaleng yang mengandung cacing khususnya di Kota Nanga Pinoh. Untuk memastikan itu, kita berharap pihak terkait melakukan inspeksi ke pasar dan lainnya yang dianggap ada menjual produk ikan kaleng itu,” katanya.

Distributor dan pedagang juga diharapkan bisa berperan aktif untuk menarik produk makarel yang dianggap mengandung cacing. Karena bila ini tak ditindaklanjuti, akan terus menimbulkan keresahan warga setempat. “Jika ada warga yang menemukannya agar segera melaporkan ke pihak dinas terkait, untuk ditindak lanjuti melaksanakan pengawasan,” ujarnya.

Sementara, salah seorang warga Nanga Pinoh, Feri Handika, mengakui dirinya juga masih bingung terkait dengan keberadaan produk ikan kalengan yang dianggap mengandung cacing. Mengingat makanan tersebut banyak dijual di toko-toko.

“Apakah merek-merek yang disebutkan BPOM itu mengandung cacing memang hanya untuk jenis makarel atau semuanya. Bagaimana dengan ikan sarden kalengan yang juga banyak dijual di pasar dengan merek yang sama,” katanya.

Feri juga mengatakan saat ini berbagai merek yang disebut mengandung cacing memang masih ada ditemui di sejumlah toko. Hanya mengantisipasi berbagai hal, ia pun untuk sementara tidak mengkonsumsi ikan kalengan tersebut. “Harapan kita memang ada pemantauan dari dinas terkait agar nantinya tidak ada warga yang menjadi korban,” pungkasnya. (edi/KN)