Tukar Pikiran Perbaiki Kualitas Gizi Masyarakat Dinkes Sanggau ke PPGB Sintang

oleh

Perbaikan kualitas gizi masyarakat menjadi tugas berat insan kesehatan dalam upaya meningkatan kualitas sumber daya manusia, bertukar informasi diperlukan dalam upaya menggali berbagai pengalaman yang bisa diterapkan untuk mendukung kesuksesan program yang dirancang. <p style="text-align: justify;">Pada Kamis (26/05/2011) lalu, Kasi Gizi Dinas Kesehatan kabupaten Sanggau, Muryanto bersama sejumlah insan kesehatan dari tiga puskesmas yang ada di Sanggau berkunjung ke Pusat Penatalaksanaan Gizi Buruk (PPGB)<br />Sintang.<br /><br />Pertemuan yang dikemas sederhana itu menjadi ruang interaksi bagi para petugas gizi untuk bertukar informasi sekaligus melihat aktivitas di PPGB Sintang.<br /><br />“Bukan studi banding tetapi lebih kepada upaya untuk saling tukar informasi karena di Sanggau saya dengar juga punya program standar untuk penanganan masalah gizi buruk,” kata Marcus Gatot Budi Prihono, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sintang.<br /><br />Ia mengatakan kunjungan kali ini selain sebagai sarana untuk salingtukar informasi juga ada rencana dari Dinas Kesehatan Sanggau untuk mengaktifkan kembali Therapeutik Feeding Centre (TFC) yang dipusatkan<br />di puskesmas.<br /><br />“Sebenarnya kita dulu sudah coba namun tidak aktif karena berbagai kendala akhirnya untuk penanganan kasus gizi buruk ini dipusatkan di PPGB,” ucapnya.<br /><br />Selain itu ia juag mengatakan sebenarnya langkah yang paling efektif untuk mendeteksi dini dan juga mengatasi masalah gizi buruk ini adalah posyandu.<br /><br />“Tetapi Posyandu kita juga banyak yang tidak aktif sehingga salah satu fokus kita saat ini adalah bagaimana mengaktifkan peran posyandu di tiap wilayah,” jelasnya.<br /><br />Muryanto dari Dinkes Sanggau membenarkan ada sejumlah kendala dalam pelaksanaan TFC di Sanggau beberapa waktu lalu.<br /><br />“Kedatangan kami ke Sintang ini juga dalam upaya untuk mengaktifkan kembali TFC tersebut,” jelasnya.<br /><br />Makanya kata dia kunjungan kali ini menyertakan Dokter, perawat dan petugas gizi dari tiga puskesmas yaitu Puskesmas Sekayam di Kecamatan Kapuas, Puskesmas Pusat damai di Parindu dan Puskesmas Balai Karangan.<br /><br />“Tiga Puskesmas ini yang nantinya akan jadi tempat penanganan gizi buruk di Sanggau dan menjadi pusat pelayanan gizi buruk untuk beberapa puskesmas, misalnya dari Entikong bisa dibawa ke Puskesmas Balai Karangan,” kata dia.<br /><br />Ia juga berharap dari yang semula tiga puskesmas ini, diharapkan nantinya bisa menyusul puskesmas lainnya yang bisa menyelenggarakan pelayanan penanganan kasus gizi buruk. Dijelaskan dia, dari sekitar 46 ribu balita yang ada di Sanggau, pada<br />tahun 2010 saja sudah terdeteksi 99 balita yang mengalami gizi buruk dan untuk 2011 ini sudah tercatat ada sekitar 20 an orang.<br /><br />“Kasus gizi buruk ini bagai fenomena gunung es, terdata 99 tetapi kenyataan dilapangan biasanya jauh lebih besar,” ungkapnya.<br /><br />Selama ini lanjut dia, untuk penanganan gizi buruk di Sanggau memang tidak ada alokasi anggaran khusus, namun pasien bisa dirawat menggunakan fasilitas Jamkesmas maupun Jamkesda yang sudah ada.<br /><br />“Biasanya kalau tidak mampu ditangani di Puskesmas, langsung dirujuk ke rumah sakit di Sanggau, di RS kami, keluarga yang menunggu pasien gizi buruk juga ikut ditanggung konsumsinya, jadi gratis dan ini semata kebijakan dari RS untuk membantu masyarakat,” imbuhnya.<br /><br />Ia berharap tiga puskesmas yang akan mengaktifkan TFC ini nanti bisa menjadi sentral dalam upaya menangani kasus gizi buruk di Kabupaten Sanggau.<strong> (phs)</strong></p>