Usaha Terasi Di Kotabaru Kembali Berproduksi

oleh

Industri rumahan usaha pembuatan terasi yang menggunakan udang kecil (udang papae) di Desa Pembelacacan, Kelumpang Selatan, Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan, kini mulai berproduksi lagi. <p style="text-align: justify;">"Memang lebih dari dua dasa warsa usaha terasi pernah ‘booming’ di Pembelacanan, tetapi setelah itu menurun drastis dan kini kembali bangkit," kata Kepala Desa Pembelacanan Ari, di Kotabaru, Senin.<br /><br />Dikatakan, bangkitnya industri terasi setelah adanya peran serta pemerintah daerah, terutama Dinas Perindustrian Kotabaru yang membina pengusaha kecil di daerah.<br /><br />Selain itu, penyebab bangkitnya kembali industri rumah tangga terasi setelah nelayan kembali mampu membeli perahu dan mesin tempel untuk mengembangkan usahanya.<br /><br />Akibat krisis ekonomi beberapa tahun lalu, lebih 80 persen nelayan di Pembelacanan yang berjumlah sekitar 500 jiwa itu "gulung tikar".<br /><br />Mereka tidak mampu lagi membeli peralatan tangkap dan memperbaiki mesinya, karena harga barang-barang dan BBM solar naik hingga beberapa persen.<br /><br />Selain ituk, cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini membuat nelayan takut melaut.<br /><br />Hal itu menyebabkan nelayan mulai mencari usaha lain, dan meninggalkan usaha yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka secara turun-temurun.<br /><br />Namun setelah ada pembinaan dan nelayan mulai bisa membeli perahu, usaha terasi itu kini kembali bangkit, meski produksinya masih tidak sebesar 10 tahun lalu.<br /><br />Seorang pengepul udang papae, Jumbran mengatakan, ia tidak lagi membuat terasi, karena minimnya pasokan udang papae sebagai bahan baku terasi, akibat nelayan tidak berani melaut menyusul gelombang besar di perairan Kotabaru.<br /><br />"Kami sudah lama tidak membuat ‘acan’ (terasi), karena udang papae sebagai bahan bahan baku terasi akhir-akhir ini sulit diperoleh," katanya.<br /><br />Menurut Jumbran yang sebelumnya juga menjadi nelayan dan kini beralih profesi menjadi buruh harian lepas pada perkebunan plasma kelapa sawit, pada kondisi normal pihaknya mampu menangkap sekitar 150 kg udang papai untuk diolah menjadi terasi seberat 50 kg yang kemudian dijual ke pasar Kemakmuran Kotabaru.<br /><br />Tetapi akhir-akhir ini, Jumbran dan puluhan pembuat terasi di Pembelacanan tidak lagi memproduksi komoditas tersebut. Mereka mulai meninggalkan keahlianya membuat terasi dan menjadi buruh harian lepas di perkebunan kelapa sawit di kampungnya.<br /><br />"Sebenarnya pedagang di Pasar Kemakmuran dan pasar-pasar harian banyak yang menanyakan mana acannya, kok lama tidak buat lagi. Bagaimana mau membuat terasi, udang papainya saja tidak ada," ujarnya.<br /><br />Diakuinya, hasil tangkapan udang lebih baik diolah menjadi terasi dibandingkan dijual dalam keadaan mentah, karena harga terasi lebih baik.<br /><br />"Harga udang papai basah, misalnya, laku dijual sekitar Rp5,000 per kg, sedangkan untuk satu kilo acan Rp25 ribu dan diperlukan hanya tiga kilo udang papae," jelasnya. <strong>(phs/Ant)</strong></p>