Uskup Sintang: Umat Katholik Sintang Tetap Optimis Ditengah Tantangan Hidup

oleh

“Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar”, inilah yang menjadi tema besar Natal tahun 2011 yang diambil dari Kitab Nabi Yesaya (Yes 9:1a). Uskup Keuskupan Sintang Monsinyur Agustinus Agus menilai, makna yang terkandung dalam tema Natal tersebut sangat relevan dengan perjalanan kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat saat ini. <p style="text-align: justify;">“Kalau kita melihat dalam konteks sekarang walau kita sudah melewati banyak kesulitan dan tantangan, namun arah kebaikan yang dilambangkan dengan terang itu sudah ada,” ungkap Monsinyur Agus, saat dihubungi Jumat (23/12/2011)<br /><br />Menurutnya, perlambang terang tersebut harus menjadi terang yang dapat membawa kedamaian dan sebagainya.<br /><br />“Tapi bagaimana supaya terang yang ada itu menjadi terang yang benderang dan menyinari yang bisa membawa kedamaian, kamakmuran dan sebagainya,” ujarnya.<br /><br />Ditegaskan, inti dari tema Natal tersebut adalah mengajak untuk selalu memiliki sikap yang optimis dalam menghadapi berbagai tantangan dalam hidup dan bukan juga meniadakannya .<br /><br />Kedatangan Yesus kedunia, lanjutnya adalah untuk membawa damai, keadilan dan sebagainya.  Yesus datang kedunia membawa terang yang harus dijaga sehingga dapat menuntun manusia kejalan yang benar.<br /><br />“Intinya adalah dalam menghadapi situasi apapun kita tidak boleh pesimis, karena sejak Yesus lahir tantangan-tantangan itu sudah ada, dan kita jaga terang tersebut sehingga dapat menuntun manusia kejalan yang benar,” jelasnya.<br /><br />Sementara itu, untuk konteks kewilayahan, khususnya kabupaten Sintang, dirinya melihat makna dari tema natal tersebut adalah sebagai wujud rasa syukur yang harus diungkapkan masyarakat terhadap perkembangan sosial ekonomi masyarakat yang sudah sangat baik dibandingkan sebelumnya.<br /><br />“Saya contohkan ketika melihat masyarakat di pasar bagaimana animo masyarakat dalam berbelanja baik untuk kebutuhan sendiri atau dijual kembali itu sangat luar biasa. Artinya itulah rasa syukur yang harus kita pertahankan dengan kondisi tersebut,” ujarnya.<br /><br />Namun demikian, dirinya mengharapkan masyarakat juga tetap untuk diminta mawas diri, bahwa jika ada masalah-masalah yang terjadi dimasyarakat, itu adalah masalah bersama yang harus dapat diselesaikan.<br /><br />Pemerintah, lanjutnya juga harus mau lebih terbuka atas peranannya dimasyarakat serta dalam pembangunan. Kritik terhadap pemerintah jangan dianggap sebagai pembangkangan terhadap pemerintahan itu sendiri, namun harus dipandang sebagai bagian dari “terang”.<br /><br />“Saya juga kritis terhadap pemerintah dan terutama  legislatif yang hanya mementingkan diri sendiri yang terungkap dalam pembahasan anggaran pembangunan,”tandasnya.<br /><br />Namun dirinya juga masih melihat, ditengah kegelapan tersebut masih ada anggota dewan yang memiliki hati nurani yang baik meskipun jumlahnya sangat minim.<br /><br />“Pesan saya kepada umat Katholik Keuskupan Sintang bahwa kita harus mensyukuri apa yang sudah kita alami baik itu keberhasilan ataupu kegagalan. Kita tetap akan menuntut yang manjadi hak kita, dan kita harus perjuangkan terus keadilan.” Pungkasnya. <strong>(*)</strong></p>