Wabup Sintang Marahi Romo Soje, Pendukung Mandau Mengkilat: Sudiyanto Minus Etika Pejabat Publik

oleh
didapat dari Chattingan Whatsapp antara Romo Jose dan Wabup Sintang Yosef Sudiyanto

SINTANG, KN – Pilkada Sintang 2020 lalu menggerus energi publik Sintang yang cukup besar. Alhasil pasangan JADI (Jarot-Sudiyanto) yang memenangkan perhelatan Pilkada yang cukup melelahkan tersebut.

Kendati demikian, hari ini, masyarakat Sintang kembali dihebohkan dengan pernyataan Wakil Bupati Sintang, Yosef Sudiyanto  kepada rohaniwan Katolik, Romo Soje. Sabtu, (5/6/2021)

Nada dan tutur kata pejabat publik apalagi seorang Wakil Bupati ini dinilai melenceng dari etika seorang pejabat publik yang dapat memperkeruh kondusifitas masyarakat Sintang.

Hal ini didapat dari Chattingan Whatsapp antara Romo Jose dan Wabup Sintang Yosef Sudiyanto.

Isi Chattingan WA tersebut, Wabup Sintang menyinggung Romo Jose dengan keterlibatannya di dalam tim Mandau Mengkilat yakni pasangan Yohanes Rumpak-Syafudin.

Padahal, dalam chattingan tersebut, Romo Soje  mempertanyakan lambannya pemerintah Kabupaten Sintang dalam merespon dan memberikan pelayanan terkait Vaksinasi Covid-19 di Kecamatan Ambalau bagi para pelayan publik seperti para romo-romo.

Sedangkan, di Kecamatan Serawai Vaksinasi Covid-19 bagi para pelayan publik khusus para romo sudah dilaksanakan. Hal inilah yang kemudian dipertanyakan oleh Romo Soje  kepada  Yosef Sudiyanto selaku pemerintah Kabupaten Sintang.

Naasnya, Romo Soje ditimpali oleh Sudiyanto dengan bahasa yang tidak mencerminkan bahasa seorang pejabat publik.

Yosef Sudiyanto terkesan sangat pendendam dengan melimpahkan kewenangan atas pertanyaan romo Soje tersebut kepada pendukung atau tim Mandau Mengkilat.

Hal ini kemudian mendapat kecaman dan sorotan dari eks pendukung Mandau Mengkilat, salah satunya Juliyanto.

Juliyanto menegaskan, bahwa pernyataan Wabup Yosef Sudiyanto bukan cerminan pejabat publik. Tetapi bahasa tersebut terkesan membawa publik pada perpecahan.

“Saya menduga, Wabup Yosef Sudiyanto adalah seorang pendendam hingga mengaburkan prinsip dan etika seorang pejabat publik,” tegasnya.

Menurut Juliyanto, seorang pejabat publik harusnya mengedepankan asas persatuan dan kesatuan masyarakat. Bukan membuat publik terpecah, apalagi ini berkaitan dengan masa depan Sintang.

“Kami sangat prihatin dengan etika kepemimpinan seorang wakil bupati. Pesta demokrasi sudah selesai, harusnya mengutamakan pembangunan berkeadilan dengan prinsip mengayomi seluruh warga masyarakat. Bukan malah mengeluarkan bahasa yang sangat minus etika,” ujar Juliyanto.

Lebih lanjut Juliyanto menilai bahwa bahasa adalah cerminan seorang manusia, jati diri dan nilai hidup dalam konteks bermasyarakat.

“Dari bahasa yang dikeluarkan Wabup Sintang adalah merupakan cerminan sikap beliau. Beliau adalah pendendam dan belum dewasa dalam berpolitik. Saya pikir beliau perlu belajar banyak tentang etika kepemimpinan. Apalagi bahasa yang dikeluarkannya berdampak pada perpecahan. Beliau samasekali tidak menunjukan sikap seorang pejabat publik,” tuturnya. (Ygn)