Walhi Sebut Konflik Tambang Emas Klimaks Ketidakadilan

oleh

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah, Arie Rompas menyebutkan konflik tambang emas yang terjadi di area PT Indo Muro Kencana merupakan klimaks dari ketidakadilan distribusi sumber daya alam. <p style="text-align: justify;">Selain itu Pemerintah di Provinsi itu juga gagal menyelesaikan persoalan konflik SDA yang selama ini terjadi dengan pendekatan represif, katanya di Palangka Raya, Selasa.<br /><br />"Konflik di area PT IMK merupakan kasus yang terus menerus dan sepertinya sengaja dibiarkan tanpa memberikan keadilan kepada masyarakat," katanya.<br /><br />Selama ini, katanya, PT IMK terus menerus melakukan pengabaian terhadap lingkungan dan hak masyarakat serta selalu menggunakan pendekatan represif sehingga mengakibatkan kemarahan masyarakat.<br /><br />Padahal, bila dilihat PT IMK yang terkesan sengaja mengabaikan lingkungan, beraktivitas tanpa dokumen AMDAL di wilayah pembukaan baru dan belum memiliki izin pinjam pakai kawasan hutan.<br /><br />"Bahkan PT IMK melanggar hak masyarakat adat dengan menggusur wilayah sakral Puruk Kambang dan menutup akses SDA di wilayah pertambangan. Jadi konflik itu klimaks dari ketidakadilan," katanya.<br /><br />Kabid Humas Polda Kalteng AKBP Pambudi mengatakan, konflik di area PT IMK terjadi, Kamis (29/6) siang, bermula saat kerumunan massa yang diperkirakan mencapai 2000 orang ingin mengambil batu berlapis emas.<br /><br />Saat terjadinya penjarahan tersebut ada lima anggota Brimob Puruk Cahu yang sedang melakukan pengamanan berupaya menahan massa agar tidak masuk ke area PT IMK.<br /><br />"Awalnya massa diimbau Kasubden 2A Pelopor Brimob Puruk Cahu Iptu Trisna Mulya didampingi empat anggotanya agar tidak masuk ke areal pertambangan," kata dia.<br /><br />Namun, lanjut Pambudi, imbauan tersebut tidak diindahkan bahkan massa melakukan perlawanan serta menyerang menggunakan senjata tajam jenis mandau, linggis maupun palu.<br /><br />Akibat perlawanan tersebut mengakibatkan empat anggota Brimob mengalami luka terkena parang dan dua warga desa Mangkuhui kabupaten Murung Raya terkena peluru karet.<br /><br />"Perlu saya tegaskan tidak ada korban yang meninggal dunia. Semua kondisinya stabil dan sadar. Sekarang ini sedang dirawat di RSUD Puruk Cahu maupun RS Bhayangkara Palangka Raya," kata Kabid Humas Polda Kalteng AKBP Pambudi. <strong>(das/ant)</strong></p>