Wali Kota Palangka Raya, HM Riban Satia meminta seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) agar dapat menyosialisasikan salam khas suku Dayak. <p style="text-align: justify;">"Dengan disosialisasikan salam khas Dayak, maka secara tidak langsung kita sudah membantu melestarikan salah satu kebudayaan daerah," kata Riban di Palangka Raya, Selasa.<br /><br />Tanpa bermaksud mengesampingkan salam resmi lain yang selama ini sudah dikenal masyarakat, salam khas Dayak juga dibudayakan untuk lebih mempererat tali persaudaraan sesama dan antarsuku yang hidup di "Kota Cantik" Palangka Raya.<br /><br />Dia meminta tidak ada yang menyalah artikan keinginan memisahkan diri dari NKRI, karena bagaimanapun juga NKRI sudah merupakan "harga mati" bagi semua rakyat tidak hanya di Palangka Raya.<br /><br />Selain sosialisasi salam khas Dayak, setiap hari Jumat pegawai di lingkungan Pemerintah Kota juga mempergunakan batik khas Dayak yakni benang bintik berserta lawung semacam topi meski warna yang digunakan tidak seragam.<br /><br />"Ini salah upaya melestarikan budaya yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Kalau tidak kita yang melestarikan budaya sendiri siapa lagi," ujar Riban.<br /><br />Wali Kota juga berharap sosialisasi salam khas Dayak, yang merupakan khasanah budaya, tentu akan lebih terkenal, tidak hanya di Indonesia tapi mancanegara.<br /><br />Dalam beberapa bulan terakhir, kata Riban, gencar dilakukan sosialisasi salam khas Dayak setiap membuka dan menutup kegiatan sambutannya, yang diucapkan setelah salam resmi lainnya.<br /><br />Meksi pada awalnya terasa asing terutama bagi yang baru pertama mendengarnya, namun lama kelamaan akan biasa, bahkan yang ada malah merasa kebanggaan karena suku Dayak memiliki salam yang mungkin tidak dipunyai daerah lain.<br /><br />Salam suku Daya berbunyi "tabe salamat lingu natali, salam sujud karendem malempang, adil ka talino, bucuramin ka saruga, basengat ka jubata, sahey, sahey, sahey".<strong> (das/ant)</strong></p>















