Wali Kota Samarinda Segel Ruko

oleh

Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang mengaku telah memerintahkan jajarannya untuk menyegel rumah toko (ruko) lain di depan ruko yang ambruk di Jalan Ahmad Yani Samarinda dan menewaskan lima orang dengan puluhan lainnya luka-luka. <p style="text-align: justify;">"Saya sudah perintahkan agar ruko lainnya disegel sampai dilakukan penelitian lebih lanjut, apabila ruko yang baru dibangun itu kualitasnya sama dengan yang ambruk itu, maka harus dibongkar," ujarnya di Samarinda, Rabu.<br /><br />Menurutnya, dari penelitian sementara, material ruko tiga lantai yang belum selesai dibangunan dan ambruk itu, tidak sesuai dengan standar kualifikasi, yakni besi tulangan yang seharusnya sebesar ibu jari orang dewasa, tetapi yang terpasang hanya sebesar jari kelingking.<br /><br />Bahan atau material seperti itu hanya salah satu contoh yang terlihat saja, sedangkan kepastian campuran semen dengan pasir atau adanya kemungkinan material lain yang tidak sesuai standar, maka harus dilakukan penelitian oleh tim lebih lanjut.<br /><br />Disinggung mengenai penyelematan yang dilakukan oleh Pemkot Samarinda, Jaang mengaku mulai mendengar kabar itu langsung ke lokasi kejadian, bahkan dia langsung memerintahkan untuk mendatangkan sejumlah peralatan guna mengangkat reruntuhan karena masih banyak pekerja bangunan yang tertimbun dalam reruntuhan.<br /><br />"Kemarin waktu saya ke sana, saya nggak sampai hati karena mendengar rintihan orang dari dalam reruntuhan dan mengadu minta tolong, makanya saya perintahkan kepada petugas penyelemat agar tidak menginjak reruntuhan ketika mengevakuasi korban," katanya.<br /><br />Apabila tim evakuasi menginjak rerutuhan untuk mengeluarkan korban, katanya, maka dikhawatirkan reruntuhan itu akan semakin ambles, padahal di dalamnya masih ada korban yang belum diselematkan sehingga cukup alat beratnya saja yang mengangkat puing-puing bangunan.<br /><br />Dia juga mengatakan bahwa mulai hari kejadian (Selasa) kemarin, berbagai upaya untuk mendatangkan peralatan langsung diterjunkan dan stafnya diperintahkan tidak perlu memikirkan biaya penyewaan alat karena yang terpenting adalah mengevakuasi korban lebih dulu.<br /><br />"Kemarin waktu pertemuan darurat, saya katakan bahwa urusan biaya menyewa alat dan lain-lain itu dibicarakan belakangan, nanti kalau semua korban sudah dievakuasi, baru kita hitung-hitungan karena ini menyangkut nyawa manusia," kata Jaang.(das/ant)</p>