Warga Desa Kapur Kubu Raya Blokir Jalan

oleh

Warga Desa Kapur, Kabupaten Kubu Raya, memblokir jalan masuk di desa mereka dengan cara menanam pohon pisang pada sejumlah lubang yang ada di jalan tersebut agar truk perusahaan yang beroperasi di daerah itu tidak dapat masuk. <p style="text-align: justify;">"Ini merupakan bentuk protes kita kepada pemerintah Kubu Raya dan pihak perusahaan yang ada di desa ini. Hal ini sudah kita lakukan sejak Jumat kemarin," kata Kundai Azis, salah seorang warga Desa Kapur, Jumat.<br /><br />Dia menyatakan, selain menanam pohon pisang pada bagian jalan yang berlubang, warga juga memasang plang yang bertuliskan kapasitas jalan hanya maksimal tiga ton.<br /><br />Kundai Aziz mengatakan pemblokiran dilakukan karena melihat infrastruktur sudah sangat parah. Selain itu, kata dia, warga juga menolak perbaikan ruas jalan yang hanya sekadar tambal sulam.<br /><br />"Kita sudah bertanya ke pihak perusahaan dan mereka merespon dengan baik dan menyarankan kita untuk bertanya kepada Bupati. Ternyata juga setujui bupati, tetapi pada kenyataan malah perbaikan seperti ini, kita menolak karena ini hanya tambal sulam," tuturnya.<br /><br />Aziz menambahkan, karena dianggap pihak perusahaan tidak menepati janji untuk memperbaiki ruas jalan tersebut, warga lantas melakukan pemblokiran.<br /><br />"Memang pihak perusahaan sudah mau memperbaiki jalan, tapi malah seperti ini, padahal anggaran sudah jelas dan bupati menyetujuinya. Makanya kami menolak ini," katanya.<br /><br />Dia juga mengatakan jika ruas jalan yang rusak diperkirakan sepanjang tiga hingga empat kilometer.<br /><br />"Keluhan ini sudah kami sampaikan, ke pemerintah dan pihak perusahaan. Kita tidak saling menyalahkan, tapi bagaimana kami bisa merasakan jalan ini," kata Kundai.<br /><br />Menurutnya kendaraan yang bisa melintas hanya yang memiliki muatan di bawah tiga ton karena disesuaikan dengan kapasitas muatan jalan. Bila ada kendaraan yang bermuatan maka warga akan melakukan pemeriksaan.<br /><br />"Jika ada truk kita periksa muatannya, karena kapasitas jalan maksimal tiga ton tidak lebih," katanya.<br /><br />Warga lain, Yanto juga menuturkan hal yang sama. Ia menganggap pemerintah kurang memperhatikan infrastruktur yang dibutuhkan warga, salah satunya ruas jalan itu.<br /><br />"Jalan ini betul-betul rusak dan perhatian dari Pemkab belum ada respons," kata dia.<br /><br />Bila musim hujan, lanjut Yanto, maka air akan tergenang di badan jalan dan ruas jalan menjadi becek. Bila musim kemarau maka debu sangat banyak dan mengganggu aktivitas warga yang melintas di jalan tersebut.<br /><br />Karena itu, tambah dia, warga setempat sepakat meminta agar ada perbaikan jalan yang rusak. "Kita minta pertanggungjawaban untuk memperbaiki jalan yang rusak ini, apalagi dari pihak perusahaan" katanya.<br /><br />Yanto juga mengatakan, seharusnya pemerintah desa juga memperhatikan kebutuhan infrastruktur untuk masyarakatnya. Apalagi saat ini, terang Yanto ada beberapa perusahaan yang berdomisili di kawasan tersebut dan setiap harinya kendaraan yang yang membawa muatan milik perusahaan melintas di kawasan tersebut.<br /><br />"Kita ingin jalan ini diperbaiki, apalagi terhadap investor-investor yang masuk dan melintas di jalan ini. Dalam satu hari tidak sedikit kendaraan yang bermuatan melintas di jalan ini. Kendaraan yang masuk dengan muatan delapan ton, sedangkan kekuatan jalan ini hanya tiga ton," kata Yanto. <strong>(phs/Ant)</strong></p>