Warga KTT Keluhkan Listrik Dan Air Bersih

oleh

Warga Desa Tanah Merah, Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung (KTT), Kalimantan Timur, mengeluhkan belum tersedianya jaringan listrik dan air bersih di desa mereka. <p style="text-align: justify;">"Keluhan masyarakat sudah berulang kali pula saya sampaikan ke pemerintah. Namun hingga saat ini pemerintah belum menunjukkan perhatian. Pemerintah seolah-olah cuek dengan apa yang menjadi keluhan masyarakat," kata anggota DPRD Kaltim Masitah di Samarinda, Rabu (19/12).<br /><br />Masitah bertemu warga pada reses DPRD Kaltim, beberapa waktu lalu, dan masyarakat mengharapkan adanya perhatian pemerintah akan penderitaan yang mereka alami hingga saat ini. Padahal sudah 67 tahun Indonesia merdeka, tapi warga masih belum bisa merasakan listrik sepenuhnya.<br /><br />"Lisrik hanya bisa dirasakan antara pukul 6 sore hingga 12 malam, setelah itu mati. Parahnya kadang listrik tidak menyala tepat pada pukul 6, sering molor, matinya pun lebih cepat," tutur Masitah.<br /><br />Dengan kondisi seperti ini seharusnya pemerintah melakukan pemasangan instalasi listrik ke desa sehingga semua masyarakat dapat menikmati aliran listrik secara merata seperti halnya masyarakat di daerah perkotaan.<br /><br />Selain persoalan listrik, warga juga mengeluhkan belum masuknya PDAM ke desa mereka, sehingga untuk minum dan masak warga menggunakan air hujan. Bila sedang kemarau maka warga pun terpaksa menggunakan air sumur dan kualitas airnya kurang baik, keruh mirip seperti kopi susu.<br /><br />"Sudah saatnya pemerintah membuka mata atas apa yang dialami warga di daerah Utara. Jangan hanya daerah kota yang diperhatikan," kata Masitah.<br /><br />Aspirasi lainnya, kondisi jalan di Kecamatan Tana Lia juga belum ada yang diaspal. Semua masih tanah. Transportasi menuju Tana Lia dan keluar juga susah. Speed boat hanya mau beroperasi hingga pukul 17.00 Wita, setelah itu tidak ada lagi. Sebab di atas itu speed boat tidak ada yang mau jalan karena rawan perampokan.<br /><br />"Pengamanan terhadap daerah utara juga harus ditingkatkan, sehingga tidak ada lagi kasus perampokan yang dialami nelayan dan masyarakat. Sebab para perampok di daerah utara tersebut dinilai kejam dengan mencuri mesin kapal warga kemudian korban ditinggal begitu saja," kata Masitah.<br /><br />Mahalnya harga BBM yang mencapai 20-25 ribu per botol juga menjadi keluhan warga. <strong>(das/ant)</strong></p>