Warga Palangka Raya Berbondong-Bondong Manfaatkan Rumah Oksigen

oleh

Sejumlah warga Kota Palangka Raya berbondong-bondong memanfaatkan fasilitas rumah oksigen yang disediakan pemerintah setempat dalam rangka meminimalkan dampak buruk kabut asap. <p style="text-align: justify;">Nurjanah, salah satu pegawai negeri di lingkungan pemerintahan Kota Palangka Raya, saat ditemui pada Kamis mengaku menyempatkan diri menggunakan fasilitas itu, pasalnya sejak terjadinya bencana kabut asap ia sering merasa sakit kepala.<br /><br />"Saya sering pusing, badan juga cepat capek. Tadi saya dipasang oksigen sekitar 15 menit, setelah itu saya merasa enakan, badan rasanya segar kembali," katanya di Palangka Raya.<br /><br />Dikatakannya, pembukaan rumah oksigen gratis itu sangat membantu, terlebih telah hampir tiga bulan wilayah "Kota Cantik" Palangka Raya terus diselimuti asap tebal.<br /><br />Sementara itu Dwi Anggraini warga Jalan Tjilik Riwut, juga bersyukur pemerintah menyediakan fasilitas rumah oksigen.<br /><br />"Meski sedikit terlambat rumah oksigen ini didirikan, tapi saya berterima kasih karena beberapa waktu lalu saya kesulitan untuk mencari oksigen," kata ibu yang sedang hamil empat bulan itu.<br /><br />Dia sebelumnya merasakan sesak napas sejak beberapa hari lalu. Namun setelah merasakan oksigen napasnya terasa lebih lega.<br /><br />"Meski sempat antre, rumah oksigen ini sangat membantu. Begitu menghirup udara segar ini, nafas juga langsung terasa segar. Saya berdoa mudah-mudahan kondisi saat ini tidak sampai mempengaruhi kesehatan janin saya," harapnya.<br /><br />Sementara itu, Eko petugas yang berjaga mengatakan sejak dibukanya rumah oksigen jumlah warga yang berkunjung terus meningkat setiap harinya sehingga terkadang harus antre dalam menggunakan oksigen.<br /><br />"Karena tabung kita terbatas maka warga juga harus antre menunggu tabung selesai digunakan. Lama penggunaan oksigen sendiri bervariasi antara 15-30 menit tergantung kondisi yang bersangkutan," katanya.<br /><br />Saat ini setidaknya sekitar 381 rumah singgah maupun rumah oksigen serta 37 rumah belajar di Provinsi Kalimantan Tengah telah disediakan untuk membantu masyarakat selama terjadinya bencana kabut asap akibat maraknya kebakaran lahan dan hutan. (das/ant)</p>