Warga Setulang Malinau Curhat ke Deddy Sitorus Soal Infrastruktur Jalan hingga masalah Pendidikan dan Kesehatan

oleh
deddy
Anggota DPR RI Dapil Kaltara, Deddy Yevri Sitoru bersama warga Setulang, Malinau dalam agenda reses

Malinau, KN – Anggota DPR RI Dapil Kaltara, Deddy Yevri Sitorus untuk ketiga kalinya menyambangi warga Setulang dalam agenda reses untuk menjaring asprasi warga. Anggota Komisi VI DPR RI ini juga melakukan safari ke berbagai desa dan kabupaten di Kaltara dalam momentum Idul Adha 2022.

Dalam sambutannya, Deddy menyampaikan dirinya sudah tiga kali berkunjung ke Setulang. Ia menilai,Setulang adalah sebuah desa yang dikelola dengan baik, hal ini bias dilihat dari bagaimana masyarakat mengelola balai adat sebagai simbol kebudayaan masyarakat local.

“Dulu saya kampanye berapi-api. Kini giliran saya bertanya, apa kebutuhan masyarakat Setulang. Janji saya menjadi alat bagi masyarakat. Sudah 76 desa teraliri listrik, dan 220 menara telkom. Fasilitas kesehatan dan 43.000 vaksin. Sejak perbatasan Krayan Malaysia ditutup, Pertamina bawa LPG pakai pesawat.” Ujar Deddy. Senin (11/7/2022)

Selain itu, terkait infrastruktur jalan akses perbatasan dari Malinau ke Long Midang (Kecamatan Krayan, Nunukan) yang berjarak 120 KM diyakininya bisa terlaksana dan sebelum 2024 harus selesai pengerjaannya.

“Jalan tembus ke Long Midang 120 KM bisa dibangun, sebelum 2024 harus selesai. Saya berharap doa dari masyarakat agar terus bisa bekerja untuk masyarakat.” Katanya.

Di lain hal, seorang pendeta menyampaikan, gedung gereja yang dibangun sejak 1993 butuh perbaikan dan renovasi gedung yang di mana menelan biaya 3 M. Ia pun berharap adanya bantuan untuk pembangunan gereja tersebut.

“Gedung gereja dibangun 1992, anggaran pembangunan 3 Miliar. Kami tidak sanggup kalau berharap dari Pemkab dan Pemprov tidak akan karena anggaran terbatas. Konstruksi beton tapi tetap menggunakan ornamen lokal Setulang.” Ujarnya.

Politisi PDI Perjuangan Deddy Sitorus kemudian meminta agar penggajuan bantuan segera dibuat agar bisa dibantu. “Saya bantu gereja 200 juta akhir tahun.” Ungkapnya.

Sementara kebutuhan transportasi darat seperti angkutan umum yang bisa dinikmati masyarakat di Setulang masih jauh dari harapan. Kendaraan desa hanya grand max dan truk. Warga mengusulkan agar adanya bantuanmini bus, yang muat 30 orang dan pengadaan roda empat (All New Terios 360 juta) untuk perjalanan dinas pendeta.

“Saya akan carikan mobil angkutan. Akhir tahun kami usahakan bantuan.” Sambung Deddy.

Infrastruktur jalan, air bersih, transportasi, kesehatan dan pendidikan masih jadi catatan penting

Sementara, Baswiran salah satu Pemandu wisata Setulang menyampaikan, Desa setulang sering dikunjungi wisatawan terutama hutan. Dirinya memohon agar adanya perbaikan jalan menuju Desa Setulang.

“Menuju ke Tanah Ulen jalannya juga rusak, kami minta jalannya diaspal. Jalan menuju kecamatan juga mohon diperbaiki.” Sambung Baswiran.

Deddy mengimbau agar terkait permintaan tersebut warga dapat berkoordinasi dengan bupati Malinau karena tahun ini ada nggaran 50 miliar untuk jalan.

Di sisi lain, problem kebutuhan air bersih masih menjadi catatan penting di benak masyarakat. Setiap tahun dana untuk air bersih dianggarkan desa. Tapi tidak cukup karena dana yang dibutuhan mencapai Rp 1,4 miliar.

“Proposal segera buat.” Tegas Deddy.

Lebih lanjut, Kades Punan Long Solok menegaskan bahwa populasi warga di desanya sekitar 500 orang, kondisinya masih sangat memprihatinkan. Hal ini bersentuhan erat dengan masalah pendidikan dan kesehatan yang masih tertinggal.

“Kondisi masyarakat masih sangat memprihatinkan. Pendidikan dan kesehatan masih tertinggal. Ada anak Paud harus keluar desa untuk sekolah.” Jelas Kades Punan Long Solok tersebut.

Menanggapi persoalan tersebut, Deddy dengan mantap menjawab akan berusaha mendatangkan transportasi berupa ambulans air. Sementara, untuk memperjuangkan gedung sekolah, Deddy menekankan pada peran dan perjuangan dari legislatif DPRD Dapil Malinau.

“Ambulans air kita usahakan. Gedung sekolah harus tunggu sampai ada anggota DPRD Dapil Malinau.” Tuturnya.(*)