Wartani Menanti Uluran Tangan

oleh
oleh

Muhamad Wartani (4,4), putra dari Wahidin (44) yang telah setahun lebih ditinggal ibunya yang meninggal saat melahirkan adiknya, terpaksa harus jadi “ekor” bapaknya kemanapun pergi. Anus sementara yang buat oleh tim dokter RSUD Sintang beberapa hari setelah ia dilahirkan menjadikannya dijauhi teman-teman seusinya. <p>Padahal pada usia tersebut, seperti kebanyakan anak-anak pada umumnya sedang senang-senangnya bermain dengan teman sebaya. “Dia malu karena diolok-olok temannya. Bau-bau, gitu. Makanya kemanapun saya dia ikut terus. Saya malah jadi tidak bisa kerja,”ungkap Wahidin menuturkan kisah anaknya. <br /><br />Lebih lanjut ia mengatakan ketika dioperasi pertama untuk membuat anus sementara, ia menggunakan Jamkesda. Sehingga ia memang tidak harus mengeluarkan biaya. Namun hal itu tidak bisa terulang untuk operasi pembuatan anus di tempatnya. <br /><br />Padahal dokter yang pernah membuatkan anus sementara telah mengatakan kepadanya bahwa Muhamad Wartani sudah bisa operasi lagi asal berat badanya sudah mencapai minimal 10 kg.<br />“Kalau sekarang sih sudah besar mbak, sudah ada 15an kg. Tapi ya itu, kami tidak punya biaya. Karena operasinya tidak bisa di Sintang, harus ke Pontianak atau mungkin ke luar Kalimantan,”tuturnya lemah.<br /><br />Penghasilanya yang tidak menentu, karena hanya bekerja serabutan membuatnya tak segera bisa memberikan anus ditempat semestinya kepada sang anak. Meski diakuinya bebanya agak sedikit berkurang karena anak kedunya kini diasuh oleh kakaknya. Tawaran akan dibuatkan kartu Jamkesmas dari petugas kesehatan di desanya Kenyabur Baru, dusun Wonosari kecamatan Tempunak tak kunjung diterimanya. <br /><br />Namun diakuinya bahwa pihak pemerintah desa pernah menyatakan akan membuatkan surat keterangan tidak mampu (SKTM) kepadanya jika anaknya hendak dioperasi.<br />“Saya binggung mbak, karena walaupun dibawain surat keterangan miskin itu, pasti diperlukan biaya yang lain,”katanya.<br /><br />Namun begitu diakuinya bahwa anaknya tidak pernah menyampaikan keluhan dengan anus sementaranya. Hanya saja jika telah buang air besar lalu dibersihkan (baca: cebok), sang anak sering merintih kesakitan.<br /><br />“Perih pak, perih,”katanya menirukan rintihan anaknya. Mata Wahidin terlihat berkaca-kaca saat menuturkan ungkapan ini.<br />Apalagi bila dari anus sementara anaknya keluar darah karena tergores oleh benang popok yang digunakan untuk menutupi. Ia mengaku terpaksa mengantikan penutup anus sementara anaknya dari plastic menjadi kain. <br /><br />“Soalnya kalau pakai plastik, keluar merah-merah dan bentol-bentol. Trus dia jadi sakit. Makanya saya ganti dengan kain popok,”jelasnya.</p> <p style="text-align: justify;"><br />Meski tak terucapkan, Wahidin yang pernah berjualan kacang rebus untuk mencukupi kebutuhan hidupnya berharap ada yang bisa membantunya untuk operasi sang anak. Terlebih dibulan suci Ramadhan ini, ia pun sangat berharap ada tangan-tangan keikhlasan yang bisa membantunya. <strong>(ast)</strong></p>