Waspadai Benturan Isu Agama Dan Etnis Pada Pilgub Kalbar

oleh

Isu agama dan etnis (SARA) masih menempati posisi puncak untuk mempengaruhi dukungan pemilih pada pilgub Kalbar tahun 2012 ini. Walaupun bukan termasuk hal baru dan dinilai wajar, namun benturan yang ditimbulkan akibat politik praktis dengan menggunakan isu tersebut harus diwaspadai. Apalagi mayoritas pemilih di Kalbar masih dalam kategori tidak rasional. Maka bukan tidak mungkin benturan isu etnis dan agama akan menimbulkan konflik yang akan sulit di cari titik temunya <p style="text-align: justify;">“Kalau isu agama dan etnis dibenturkan maka akan sulit di cari jalan keluarnya. Karena agama itu menyangkut keyakinan. Masing-masing akan merasa benar dan merasa berjuang di jalan Tuhan. Maka akan sulit dicari titik temunya,”ungkap akademisi STAIN Pontianak Eka Hendri, saat berada di Sintang baru-baru ini. <br /><br />Menurutnya sebenarnya dalam konteks politik pragmatis, penggunaan isu SARA adalah hal wajar. Selagi penggunaan isu itu tidak memecah belah masyarakat. Namun hal ini diakuinya akan sangat sulit terjadi, karena politik primordial cenderung tidak rasional dan mengkotak-kotakan masyarakat. <br /><br />“Kalau hanya sekedar politik pragmatis atau kepentingan mungkin lebih mudah dicari akar penyelesaianya. Artinya kalau terkait kepentingan, kalau kepentinganya sudah sama masalahnya bisa selesai. Tapi kalau menyangkut etnis dan agama itu sangat sulit,”ujarnya. <br />Dijelaskan mantan aktivis HMI ini, di Amerika saja, negara yang kehidupan demokrasinya banyak dijadikan referensi bagi banyak negara di dunia isu agama masih tetap menjadi persoalan dalam setiap pesta demokrasi. Hal itu menurutnya masih bisa dilihat dari kenyataan bahwa hingga saat ini masyarakat Amerika masih sulit menerima pemimpin dari kalangan muslim. “Kalau semangat nasionalisnya di Amerika memang sudah bagus, tidak ada lagi suku A atau B. tapi mereka sudah menggunakan istilah american’s people. Berbeda dengan kita di sini, yang masih kental nuansa primordialismenya,”jelasnya. <br /><br />Diyakini Eka Hendri, bahwa tingkat pemilih rasional di Kalbar ini hanya sekitar 20-30 persen saja. Artinya pemilih yang menggunakan haknya dengan pertimbangan kapabilitas dan kwalitas pemimpin yang akan dipilih. Selebihnya akan lebih menggedepankan kepentingan dan SARA untuk menjadi penentu siapa pemimpin yang akan dipilih. “Bahkan tingkat pendidikan yang tinggi pun tidak menjadi jaminan bahwa seseorang akan menjadikan pemilih yang rasional. Apalagi bagi mereka yang memiliki kepentingan,”katanya. <br /><br />Jika saja para calon kandidat gubernur lebih majemuk, menurutnya tingkat rasionalitas pemilih akan cenderung naik. Karena masyarakat akan memiliki lebih banyak pilihan. Melihat komposisi calon kandidat gubernur pilgub 2012 ini, Eka Hendri meyakini bahwa keempat pasangan kandidat pasti akan menggunakan isu etnis dan agama. Ia pun berharap para kandidat dan timnya tidak membenturkan isu tersebut, karena yang akan terjadi justru konflik agama. “Politik adalah politik, memanfaatkan agama untuk mendulang dukungan sudah lumrah terjadi. Hanya saja jangan sampai dibenturkan karena dampaknya sangat tidak baik,”pungkasnya. <strong>(ast)</strong></p>