WCC: Kekerasan Terharap Perempuan Di Bengkulu Meningkat

oleh

Yayasan Cahaya Perempuan Women`s Crisis Center Bengkulu mencatat kasus kekerasan terhadap perempuan di Provinsi Bengkulu pada 2010 meningkat 100 persen dari tahun sebelumnya <p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 7.5pt; font-family: Verdana;">Yayasan Cahaya Perempuan Women`s Crisis Center Bengkulu mencatat kasus kekerasan terhadap perempuan di Provinsi Bengkulu pada 2010 meningkat 100 persen dari tahun sebelumnya. <br /> <br /> Data yang terhimpun selama 2010 menunjukkan adanya peningkatan angka kekerasan terhadap perempuan, dari 197 kasus yang tercatat pada 2009 menjadi 397 kasus pada 2010. <br /> <br /> "Artinya ada kenaikan kasus lebih dari 100 persen," kata Direktur Yayasan Cahaya Perempuan Women`s Crisis Center Bengkulu Susi Handayani di Bengkulu, Senin <br /> <br /> Hal itu diungkapkannya saat menjadi pemateri seminar bertajuk "Meretas Upaya Pencegahan dan Penanganan Incest di Bengkulu" dalam rangka Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap 8 Maret. <br /> <br /> Ia mengatakan, sekitar 50 persen atau 103 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak terjadi dalam rumah tangga. <br /> <br /> Kasus itu terbagi menjadi kekerasan terhadap istri mencapai 74 persen atau 76 kasus, sekitar 13 persen atau 15 kasus kekerasan seksual terhadap anak kandung/tiri dan kekerasan penganiayaan terhadap anak sebanyak 13 persen atau 15 kasus. <br /> <br /> Selain itu, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak lainnya yaitu perkosaan sebanyak 20 persen atau 79 kasus, kekerasan dalam berpacaran sebanyak 25 persen atau 119 kasus, dan sekitar 5 persen adalah perdagangan perempuan. <br /> <br /> "Walaupun kekerasan dalam rumah tangga masih mendominasi di Bengkulu, tapi kasus incest juga meresahkan karena dari catatan kami terjadi kenaikan kasus 100 persen," katanya. <br /> <br /> Hal ini kata dia menunjukkan semakin banyak anak yang terabaikan perlindungannya dari keluarga. <br /> <br /> Penanganan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan oleh korban sebab tidak jarang langkah-langkah penanganan yang dilakukan malah melanggar hak-hak anak itu sendiri. <br /> <br /> Terutama kelompok umur korban berusia 10 hingga 18 tahun atau masa remaja, tak jarang harus menerima sanksi mulai dari pelabelan negatif, hujatan, cacian di komunitas hingga pemutusan akses pendidikan seperti dipindahkan atau dikeluarkan dari sekolah. <br /> <br /> "Apalagi bila sampai hamil dan melahirkan, membuat anak semakin jauh dari perlindungan baik oleh masyarakat maupun negara," katanya. (Eka/Ant) <br /> <br /> <!–[if !supportLineBreakNewLine]–><br /> <!–[endif]–></span></p>