Buku Warnasari Sistem Budaya Kadipaten Pakualaman Yogyakarta adalah salah satu bukti bahwa lumbung budaya nusantara masih ada dan hidup dengan subur, seperti dikatakan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti. <p style="text-align: justify;">Buku Warnasari Sistem Budaya Kadipaten Pakualaman Yogyakarta adalah salah satu bukti bahwa lumbung budaya nusantara masih ada dan hidup dengan subur, seperti dikatakan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti.<br /><br />"Saya telah membaca isinya. Dan saya yakin, bahwa lumbung budaya Nusantara ini masih hidup subur di tengah masyarakat," kata Wiendu saat peluncuran Buku Warnasari Sistem Budaya Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta, Sabtu.<br /><br />Menurut dia, tulisan yang sangat indah mengenai kekayaan budaya yang hidup di lingkungan Kadipaten Pakualaman juga menunjukka bahwa budaya tulis di tengah masyarkata masih hidup dan semakin berkembang.<br /><br />Ia mengatakan, seluruh komponen yang ada di dalam buku, mulai dari tata pemerintahan, arsitektur, kesenian, upacara adat, kerasipan, dan tata boga ditulis dalam rangkaian yang sangat tepat dan mengandung arti yang sangat dalam.<br /><br />"Di kehidupan sekarang, banyak bukti yang bisa dilihat betapa budaya Pura Pakualaman memberi inspirasi terhadap perkembangan budaya di Indonesia," katanya.<br /><br />Salah satunya adalah konsep tata pamong yang diterapkan dalam tata pemerintahan Kadipaten Pakualaman. "Pamong berarti pelayan, karenanya, pemimpin harus mencerminkan diri sebagai seorang pelayan untuk masyarakat. Ini bisa memberi inspirasi kepada pemimpin-pemimpin di Indonesia," katanya.<br /><br />Budaya yang kemudian tertuang dalam sebuah buku, lanjut dia, memiliki nilai yang tidak akan pernah berkurang karena bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam waktu yang tidak terbatas.<br /><br />"Saya berharap, akan muncul budayawan-budayawan baru yang kemudian mentransfer kekuatan budaya yang ada ke generasi berikutnya," katanya.<br /><br />Sementara itu, Budayawan Bakdi Soemanto yang juga Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), menyebut bahwa buku serupa juga telah diterbitkan oleh Keraton Kasunanan Surakarta dan juga Keraton Kasepuhan Cirebon.<br /><br />"Di Inggris, juga sudah ada buku seperti ini. Buku ini menjadi penting, karena manusia memiliki sifat lupa," katanya.<br /><br />Padahal, lanjut dia, peranan keraton atau kadipaten seperti Pura Pakualaman menunjukkan sejarah bangsa.<br /><br />Ia pun berharap, buku tersebut dapat diterjemahkan dalam Bahasa Inggris dan dijual di bandar udara internasional agar tidak hanya dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia.<br /><br />Buku tersebut ditulis oleh 10 orang penulis dengan berbagai latar belakang, di antaranya adalah akademisi Prof. Dr. Hermien Kusmayati dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Sri Ratna Saktimulya dari UGM, Sumardiyanto dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) serta dari kerabat Pura Pakualaman yaitu BRAy Atika Suryodilogo, BRAy Dyah Indrokusumo dan KRMT Projowinoto.(Eka/Ant)</p>















