Workshop RSPO Untuk Petani Sawit Anggota CUKK

oleh

Saat ini, Credit Union Keling Kumang (CUKK) memiliki sekitar 14.000 orang anggota yang sebagai petani sawit. Khusus untuk anggota yang petani sawit inilah, harus diberikan pemahaman tentang Rountable and Sustainable Palm Oil (RSPO). Begitu diinformasikan General Manager CUKK Yohanes. RJ hari Rabu (17/04/2013). <p style="text-align: justify;">Untuk itu, bersama dengan Solidaridad dari Belanda dan Good Return dari Australia sebagai fasilitator kegiatan, CUKK telah menggelar Workshop pengenalan RSPO untuk para anggota. Workshop ini, digelar selama 2 hari di Kantor Pusat CUKK Tapang Sambas Kabupaten Sekadau pada tanggal. 15-16 April 2013. Kegiatan Workshop ini, diikuti oleh 207 peserta.<br /><br />Hadir sebagai pemateri, Desi Kusumadewi dari RSPO Bogor, Piers Gillespie dan Yulianto Kurniawan dari Solidaridad Asia Pasific, Mariana Spellato dari Solidaridad Amerika Selatan, Haryono dari WWF Kalimantan Barat dan Arifin. P dari SKPS Kabupaten Sekadau.<br /> <br />Dijelaskan Yohanes, bahwa Workshop ini dilaksanakan untuk memberikan dorongan kepada anggota CUKK agar dapat mandiri dikemudian hari. Para petani, diharapkan bisa lebih paham mengenai cara mengelola dan mengembangkan kebun kelapa sawitnya dengan baik. Petani juga harus mengerti standar-standar yang telah diberikan oleh para trainer, melalu sekolah lapang yang saat ini masih terus berjalan.<br /><br />“Saat ini program sekolah lapang CUKK sudah berjalan, diharapkan dapat terus berjalan sampai-dengan para petani peserta merasakan hasil dari sekolah lapang itu. Semua materi modul yang diajarkan dalam Workshop, sudah berstandar Internatioanal. Oleh karena itu, diharapkan para peserta mengikuti kegiatan ini sampai selesai. Jika ada peserta yang pulang sebelum kegiatan selesai atau putus ditengah jalan, peserta akan dinyatakan gugur dan tidak mendapat ijazah.” Terang Yohanes.<br /><br />Dikatakan Yohanes pula, bahwa program ini bukan hanya sekedar pengenalan saja, namun merupakan program jangka panjang. Targetnya, bagaimana membuat semua anggota CUKK semakin sejahtera dan mampu meningkatkan standar taraf hidupnya sesuai dengan misi yang diemban oleh CUKK.<br /><br />Wakil dari Word Education Australia di Indonesia, Edy Hartono, yang ditemui di gedung Rumah Punyong Sintang juga mengatakan. Tidak dapat dipungkiri, bahwa konsumen dunia sangat mengharapkan produk sawit yang baik dan berkualitas. Mereka juga menginginkan produk sawit yang tidak bermasalah di bagian hulunya dimana sawit itu dibudidayakan, sampai dibagian dihilirnya dimana sawit itu dipasarkan. Sehingga para anggota dapat menjadi petani kelapa sawit yang berkelanjutan. Karena alasan itu, CUKK sangat menginginkan petani sawit dampingan CUKK dapat mengenal dan memahami prinsip dari RPSO ini, ujarnya.<br /><br />Dia juga menambahkan, melalui pengenalan RSPO ini, petani diberikan informasi mengenai kondisi di luar dan bagaimana mencapainya kesana. Sehingga kedepan petani tidak hanya memperhatikan aspek ekonomi dan produksi sawitnya saja, juga aspek-aspek lain seperti aspek sosial dan ekologinya. Karena semua itu sudah merupakan tuntutan pasar, yang tidak bisa dihindari oleh seluruh industri kelapa sawit sedunia. Ujar Edy pula.<br /><br />Sekarang ini, sebetulnya banyak lembaga yang berkonsentrasi dalam hal tersebut. Tetapi para petani belum mengetahuinya, karena keberadaan lembaga ini belum terinformasikan dengan baik. Dengan melalui kegiatan Workshop seperti ini, akhirnya petani sawit yang hadir menjadi paham, bahwa ternyata ada WWF, RSPO, SPKS Kabupaten Sekadau dan Solidaridad dari Belanda. Bahkan Dinas Perkebunan juga sebenarnya mencoba meperkenalkan tentang apa itu RSPO.<br /><br />Didalam Permentan No. 19 tahun 2011 Tentang Pedoman Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia, juga telah tertuang bahwa perusahaan dan petani kelapa sawit diwajibkan untuk menerapkan pengelolaan kebun kelapa sawit secara berkelanjutan.” Pungkas Edy. (das/Luc)</p>