Yayasan Bos Kembali Lepasliarkan 20 Orangutan

oleh

Yayasan Bos bersama PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia kembali melepas 25 orangutan ke hutan lindung Bukit Batikap Provinsi Kalimantan Tengah dan Hutan Kehje Sewen Provinsi Kalimantan Timur. <p style="text-align: justify;">17 orangutan dilepaskan di Bukit Batikap sedangkan tiga lainnya di hutan Kehje Sewen, kata Anton Nurcahyo, Manajer Program Reintroduksi Orangutan Kalteng di Palangka Raya, Kamis.<br /><br />"Pelepasan itu akan dilakukan dari 28-30 November 2013. Kami juga akan memindahkan lima orangutan dari pusat rehabilitasi orangutan di Samboja Lestari Kaltim ke Nyaru Menteng Kalteng," tambah dia.<br /><br />Pelepasliaran orangutan ini merupakan upaya perwujudan target yang tercantum pada Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017 yang diluncurkan oleh Presiden Republik Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim di Bali 2007.<br /><br />Ia mengatakan mengenai pelepasliaran lintas provinsi dilakukan karena DNA tiga orangutan menunjukkan berasal dari daerah yang berbeda. Dimana orangutan yang direhabilitasi di Nyaru Menteng Kalteng, ternyata memiliki DNA orangutan Kalimantan Timur, yaitu dari sub-spesies Pongo pygmaeus morio.<br /><br />"Sedangkan lima orangutan yang direhabilitasi di Samboja Lestari Kaltim, merupakan sub-spesies Pongo pygmaeus wurmbii yang berasal dari Kalteng," kata Anton.<br /><br />Manajer Program Reintroduksi Orangutan Kalteng itu mengatakan saat ini upaya konservasi orangutan semakin digiatkan melihat keprihatinan yang terjadi akhir-akhir ini, yaitu pembunuhan orangutan dan pembukaan lahan baru untuk kepentingan industri.<br /><br />Dimana sejak Agustus dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan, Nyaru Menteng telah menerima 8 anak orangutan yatim piatu. Bayi orangutan yang telah kehilangan induknya ini membutuhkan proses rehabilitasi sedikitnya selama 7 tahun. Sementara itu Pemerintah memiliki target untuk melepasliarkan orangutan yang ada di pusat rehabilitasi paling lambat pada tahun 2015.<br /><br />"Jika Pemerintah tidak tegas dalam menegakkan hukum untuk melindungi orangutan dan habitatnya, target yang tertuang dalam Rencana Aksi Konservasi Orangutan tidak akan bisa terwujud. Hal lain yang sangat mendesak agar pelepasliaran orangutan bisa berjalan dengan lancar adalah kebutuhan akan lokasi pelepasliaran yang baru," demikian Anton. <strong>(das/ant)</strong></p>