Korban Meninggal Akibat Kebakaran Lahan Bertambah

oleh

MELAWI – Setelah Vito (7) yang dinyatakan meninggal dalam kejadian kebakaran lahan di Desa Nanga Tikan, Minggu (12/8) lalu, kini kakaknya atas nama Nasario Putra (10) atau biasa dipanggil Rio yang sempat kritis saat dirawat di Rumah Sakit Citra Husada (RSCH) juga meninggal dunia pada Selasa (14/8) malam. Korban meninggal di kampung halamannya setelah pihak rumah sakit tak mampu menangani kondisi fisiknya yang sudah mengalami luka bakar berat. Kabar duka mengenai Rio tersebut menambah jumlah korban jiwa akibat kabakaran lahan.

Informasi meninggalnya Rio dibenarkan oleh mantan Kepala Desa Nanga Tikan, Yohanes melalui via seluler. “Sudah dimakamkan siang ini. Meninggalnya tadi malam, setelah tak lama keluar dari rumah sakit,” terangnya beberapa hari lalu.

Yohanes yang juga masih memiliki hubungan keluarga dari korban ini menerangkan, pihak keluarga memilih untuk membawa Rio pulang ke Desa Nanga Tikan pada Selasa malam. Saat itu, Rio memang belum meninggal.

“Setelah dibawa ke kampung baru meninggal. Alasan keluarga karena dirasa sudah tidak bisa lagi diobat. Pasang infus tak masuk, apa-apa tak masuk. Jadi menurut dokter sudah tidak harapan. Dia (Rio) hanya bertahan karena adanya oksigen. Hanya untuk bapaknya (Adong) sudah dibawa ke Pontianak,” katanya.

Lebih lanjut, Pria yang akrab disapa Ke;eb tersebut menuturkan, sejauh ini belum ada pemberian bantuan untuk korban. Hanya ada bentuk perhatian sedikit dari masyarakat setempat serta aparatur desa untuk keluarga korban.

“Bantuan sukarela sumbangan yang dikumpul oleh perangkat desa. Dari pemerintah desa juga ada. Hanya dari kabupaten, kita belum tahu. Mudah-mudahan ada. Karena ini adalah musibah yang menyakitkan,” katanya.

Yohanes berharap kejadian kebakaran lahan yang sampai merenggut korban jiwa dua anak di desanya tidak kembali terulang. Ia sendiri sudah berkali-kali mengingatkan masyarakat bila ingin membakar ladang agar menyampaikannya pada perangkat desa, supaya dilakukan bersama.

“Kalau sudah ramai-ramai, masih juga kejadian ya apa boleh buat. Kita sudah antisipasi,” katanya.

Menurut Yohanes, saat kejadian, memang Adong tidak mengatakan pada masyarakat bahwa ia tidak akan membakar ladang. Karena memang sebelumnya ia sudah membakar ladang, bahkan sudah tumbuh padinya.

“Hanya masih ada sisa-sisa di rawa yang belum dibakar. Karena itu, sambil dia nugal (menanam padi) ia bakar lahan. Tidak tahu, pas bakar ada angin kencang. Hanya kita tak tahu kejadian persisnya bagaimana karena hanya dia bertiga saja,” katanya.

Orang kampung, kata Yohanes baru mengetahui api setelah saat siang hari melihat ada api yang membesar. Lokasi ladang itu sendiri jauh dari kampung, kurang lebih hampir dua jam dari desa.
“Tunggu-tunggu sampai sore, dia dan anaknya tak pulang-pulang. Maka disusul anaknya yang besar dua orang (Jendri dan Jepri) ke ladang. Ternyata dilihat bapaknya dan dua anaknya sudah kondisi seperti itu di pondok. Satunya sudah meninggal. Bapaknya ini dalam kondisi fisik begitu luar biasalah masih bisa mengambil anaknya dalam api,” katanya.

Terpisah, Direktur Rumah Sakit Citra Husada (RSCH) Nanga Pinoh, Santoso yang menangani korban luka bakar mengungkapkan bahwa kondisi Rio memang sudah berat saat dibawa ke rumah sakit. Saat ini persentase luka bakar di tubuh Rio mencapai 80 persen.

“Luka anaknya sudah berat. Areal muka sudah menghitam karenanya cukup parah. Tapi kita sudah berupaya semaksimal mungkin sebisanya untuk menyelamatkan korban,” katanya.

Rio, kata Santoso datang pada Minggu malam sekitar pukul 21.00 WIB bersama sang bapak Adong. Saat itu, kondisi sang anak sama sekali tidak sadarkan diri. Dengan kondisi ini, keduanya memang tak mungkin untuk dirujuk saat itu.

“Jadi untuk rujuk, kondisi pasien harus stabil dulu. Kemarin bapaknya yang sudah bisa dirujuk ke RS Yarsi di Pontianak. Sedangkan anaknya oleh pihak keluarga dibawa pulang,” terangnya.(Ed/KN)