ARTIKEL – Di zaman sekarang ini, dunia bisnis tidak hanya fokus pada keuntungan semata. Konsep
sociopreneurship muncul sebagai bukti bahwa usaha bisa juga digunakan untuk
menciptakan perubahan sosial.
Kata sociopreneur berasal dari gabungan social (sosial)
dan entrepreneur (wirausaha), yang berarti seseorang yang menjalankan bisnis dengan tujuan sosial sebagai inti dari usahanya.
1. Makna dan Esensi Sociopreneurship
Sociopreneurship bukan hanya tentang membantu orang lain, tetapi juga tentang menciptakan solusi yang bisa memberikan dampak besar bagi masyarakat dalam jangka waktu yang lama. Para sociopreneur menganggap masalah sosial sebagaibpeluang untuk berkreasi dan berinovasi. Misalnya, ketika ada sampah yang menumpuk
di sekitar kita, seorang sociopreneur justru melihatnya sebagai bahan baku untukbmembuat produk daur ulang yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Berbeda dengan organisasi amal yang biasanya membutuhkan bantuan dari donatur, sociopreneurship berfokus pada kemandirian.
Mereka membangun bisnis yang berkelanjutan, sehingga bisa terus memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa bergantung terus-menerus pada bantuan dari luar.
2. Contoh Sociopreneurship di Indonesia
Di Indonesia, gerakan sociopreneur mulai berkembang di berbagai wilayah.
Misalnya: DuAnyam, sebuah usaha sosial yang memberdayakan wanita di Nusa Tenggara Timur untuk membuat anyaman tradisional sebagai cara mendapatkan penghasilan.
Waste4Change, perusahaan yang menangani sampah dan memberikan edukasi tentang lingkungan.
Kopi Tuli, sebuah kafe yang mempekerjakan barista dari kalangan penyandang disabilitas tuli, sekaligus mengajarkan masyarakat agar lebih inklusif.
Dari contoh-contoh tersebut, terlihat bahwa bisnis tidak hanya bisa menghasilkan keuntungan, tetapi juga memberikan manfaat bagi kemanusiaan.
3. Dampak Positif bagi Ekonomi dan Sosial Sociopreneurship memiliki dampak yang luas.
Secara ekonomi, usaha ini menciptakan pekerjaan baru dan meningkatkan
penghasilan masyarakat. Secara sosial, ia membentuk kepercayaan diri,
kemandirian, serta rasa memiliki terhadap lingkungan sekitar.
Selain itu, sociopreneurship juga mendorong tumbuhnya budaya gotong royong dalam bentuk yang baru — kerja sama antara pelaku bisnis, masyarakat, dan pemerintah untuk menyelesaikan berbagai masalah bersama.
Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjadi karena keuntungan, tetapi juga karena nilai-nilai kemanusiaan.
4. Tantangan yang Dihadapi
Meski terdengar menarik, menjadi seorang sociopreneur bukan hal yang mudah. Beberapa tantangan utama yang sering dihadapi meliputi:
Pendanaan, karena banyak investor cenderung ragu untuk memberikan modal kepada usaha yang tidak hanya mengejar keuntungan.
Kesulitan dalam menjaga keseimbangan antara tujuan sosial dan bisnis, di mana
nilai-nilai sosial tetap harus dijaga tanpa mengorbankan stabilitas finansial.
Kurangnya kesadaran masyarakat, yang masih berpikir bahwa kegiatan sosial tidak bisa digabungkan dengan bisnis.
Untuk mengatasi tantangan ini, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak, seperti pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas lokal, agar ekosistem sociopreneurship di Indonesia bisa berkembang lebih baik.
5. Masa Depan Sociopreneurship
Masa depan dunia membutuhkan lebih banyak orang yang memiliki jiwa sosial dan kewirausahaan. Di tengah tantangan seperti kemiskinan, pengangguran, dan
masalah lingkungan, para pelaku usaha sosial menjadi bagian penting dalam
mengubah dunia. Generasi muda memiliki peran penting dalam gerakan ini karena mereka lebih kreatif, peduli, dan terbuka terhadap gagasan baru.
Dengan adanya pendidikan tentang kewirausahaan sosial di sekolah dan kampus, diharapkan akan muncul lebih banyak orang yang tidak hanya ingin sukses secara. pribadi, tetapi juga bisa memberikan manfaat besar bagi masyarakat umum.
Kesimpulan
Sociopreneurship adalah gabungan nyata antara hati dan pikiran bisnis.
Ia mengajarkan bahwa berwirausaha tidak harus hanya tentang diri sendiri, dan membantu orang lain tidak harus hanya melalui donasi. Dengan ide yang kreatif, semangat sosial yang tinggi, dan pengelolaan yang baik, seorang sociopreneur bisa membangun bisnis yang menguntungkan dan juga mampu mengubah kehidupan
banyak orang.
Saat ini, dunia semakin menuju arah di mana kesuksesan tidak lagi diukur dari
besarnya untung yang diperoleh, tetapi dari seberapa besar dampak positif yang
diberikan.
Pada akhirnya, bisnis yang autentik adalah bisnis yang memberikan manfaat, bukan
hanya bagi pemiliknya, tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan.
Fabian Alfarizi, mahasiswa STMIK prodi Teknik informatika, (lulusan SMK Bangun Nusa Bangsa)














