SINTANG, KN – Ribuan massa mengepung Mapolres Sintang pada Jumat sore sekitar pukul 17.00 WIB hingga malam hari. Aksi tersebut dipicu oleh penahanan tiga warga yang diduga terlibat aktivitas PETI (Penambangan Emas Tanpa Izin) di wilayah Kabupaten Sintang. Ketegangan sempat meningkat seiring bertambahnya jumlah massa yang memadati area sekitar kantor polisi.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, ketiga warga itu sebelumnya diamankan oleh aparat dari Polres Sintang karena diduga melakukan aktivitas penambangan emas ilegal. Penindakan tersebut merupakan bagian dari upaya penegakan hukum terhadap praktik PETI yang selama ini menjadi perhatian aparat penegak hukum di wilayah tersebut.
Penahanan itu memicu aksi solidaritas dari masyarakat yang merasa keberatan atas langkah hukum yang diambil. Massa kemudian mendatangi Mapolres untuk menuntut agar ketiga rekan mereka segera dibebaskan. Seiring waktu, jumlah massa terus bertambah hingga memenuhi halaman dan akses masuk kantor polisi. Aparat kepolisian tampak berjaga untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Situasi sempat memanas ketika sebagian massa mulai mendesak aparat agar segera mengambil keputusan. Untuk meredam ketegangan dan mencegah terjadinya tindakan anarkis, Bupati Sintang, Gregorius Herkulanus Bala, turun langsung ke lokasi. Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Sintang itu disambut sorakan massa yang menunggu kepastian.
Bupati Bala kemudian berkoordinasi dengan jajaran kepolisian serta menemui massa aksi. Dalam keterangannya, ia menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan mencari solusi terbaik dan menjamin persoalan tersebut diselesaikan secara bijaksana.
“Percayakan kepada kami untuk menyelesaikan persoalan ini dengan baik. Saya minta kepada seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan kita semua,” ujar Bupati Bala di hadapan massa.
Ia juga memastikan bahwa komunikasi antara pemerintah daerah dan pihak kepolisian berjalan dengan baik demi menjaga kondusivitas daerah. Setelah adanya pernyataan tersebut, situasi berangsur kondusif dan massa mulai membubarkan diri secara tertib.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya dialog dan koordinasi antara masyarakat, pemerintah, dan aparat penegak hukum dalam menyikapi persoalan yang sensitif agar stabilitas keamanan di Kabupaten Sintang tetap terjaga.











