BBGRM Bulan Seremonial

oleh

MELAWI – Desa Kelakik menjadi pusat pencanangan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke XV tingkat provinsi Kalimantan Barat, Rabu (5/9). Dimana dalam pencanangan tersebut, Bupati Melawi, Panji dan Asisten II Setda Provinsi kalbar, Syarif Kamaruzaman, serta Wakil Ketua DPRD Melawi, Iif Usfayadi secara simbolis bergotong royong menyemen tangga.

Asisten II Setda Provinsi Kalbar, Syarif Kamaruzaman mengatakan, pada hari ini seluruh masyarakat kalimantan barat kembali melaksanakan pencanangan BBGRM yang ke XV, dengan mengusung tema dengan BBGRM kita tingkatkan peran lembaga masyarakat desa sebagai mitra masyarakat desa. Rangkaian ini menjadi upaya untuk meningkatkan kepedulian, keberagaman dan peran aktif masyarakat terhadap keanekaragaman untuk menuju penguat integritas sosial dan penghidupan kembali terhadap nilai-nilai pancasila sebagai falsafat bangsa dan landasan negara.

Menurutnya, pengalaman nilai-nilai pancasila sesungguhnya masih ditengah-tengah masyarakat kita. Pada saat ini bukan lagi nilai-nilai itu yang harus digali, karena sesunguhnya telah mengakar secara kuat semenjak negara ini merdeka dan berdaulat. Bahkan semenjak kejayaan kerajayaan sri wijaya dan majapahit sekalipun itu sudah merupakan cikal bakal dari nusantara.

“Kalau kita menyadari bahwa landasan negara ini adalah pancasila, sedangkan landasan pembangunan adalah gotong royong. Maka adalah ironi dankeliru meenyetarakan gotong royong dengan etos kerja. Karena begitu tingginya nilai gotong royong ini dimata bapak proklamator kita. Bung Karno menyatakan bahwa sesungguh, kelima sila pancasila diwujudkan menjadi tiga nama yaitu tri sakti. Dan jika dijadikan satu namanya adalah gotong royong,” ungkapnya.

Lebih lanjut Ia berharap, kegiatan yang sangat mulia tersebut, akan menemukan jalannya kembali kepada implementasi nilai-nilai gotong royong dalam masyarakat.

“BBGRM bukanlah seremonial belaka, namun harus menjadi kerja nyata, itulah nilai-nilai gotong royong harus diberikan ruang gerak yang leluasa,” ucapnya.

Dengan melaksanakan gotong royong dengan nyata, sehingga roh gotong royong terpelihara dengan baik ditengah-tengah masyarakat. Yang diperlukan adalah regulasi secara nyata, diberikan jaminan bagi keberlansungan dan eksistensi nilai gotong royong.

“Budaya gotong royong yang tumbuh di tengah masyarakat Indonesia, sudah menjadi bagian dari sistim nilai buidaya bangsa. Perlu kiranya untuk diletarikan secara berdaya guna untuk memperkuat integritas sosial masyarakat, sebagai ujung tombak penyelenggaraan NKRI,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Melawi, Panji mengatakan, pencanangan gotong royong tersebut menjadi momen untuk mengingatkan kembali bahwa gotong royong adalah pola hidup sebenarnya yang harus terus diingatkan kembali. Jangan karena bisa hidup sendiri, tanpa orang lain.

“Yang jelas gotong royong itu mengingatkan bahwa kita bukanlah individual, tetapi kita adalah pola masyarakat dan mahluk yang sifatnya sosial, baik dalam pelaksanaan pembangunan, hari-hari kita dimasyarakat, dan mengingatkan juga bahwa kebersamaan, kekompakan adalah wadah untuk bisa menyelesaikan banyak persoalan yang dialami,” ujarnya.

Sehingga, lanjutnya, perlu diingatkan secara terus menerus agar banyak kemajuan. Jangan sampai membuat kita lupa bahwa kebersamaan dan gotong royong terasa tidak penting lagi.

“Kerjasama meemerlukan orang lain itu secara otomatis. Kita tidak boleh lepas dari kebersamaan itu,” pungkasnya. (Ed/KN)