Nasib rumah sakit rujukan di timur Kalbar hingga kini belum bisa dipastikan kapan bisa beroperasi maksimal. Apalagi kucuran dana pembangunan fasilitas untuk mendukung operasi rumah sakit tersebut mengucur tak optimal. Alasannya adalah, terkendala investasi pemerintah ditengah keterbatasan anggaran. <p style="text-align: justify;">“Tahun ini, pembangunan fasilitas Rumah Sakit Rujukan hanya mengandalkan alokasi anggaran dari APBD II, sebesar Rp 650 juta,” ungkap, dr Sidik Handanu, Kepala RSUD Ade M Djoen Sintang kepada kalimantan-news saat di ruang kerjanya, Kamis (17/02/2011).<br /><br />Dungkapkan, meskipun pemprov berkewenangan memberikan batuan rumah sakit rujukan tersebut, namun hingga kini belum ada kepastian mengenai besaran dan kapan pencairan bantuan bisa dilakukan. <br /><br />“Kapasitas kami hanya membuat usulan, persoalan realisasi bukan kewenangan kami,” timpal Handanu.<br /><br />Sementara mengenai kucuran APBD Kabupaten, menurutnya memang terkait erat dengan keterbatasan anggaran, sehingga sampai saat ini juga belum bisa dipastikan kapan RS Rujukan bisa berfungsi sebagaimana mestinya. <br /><br />“Agak sulit memastikan kapan RS Rujukan wilayah timur itu bisa berfungsi,” timpalnya.<br /><br />Sementara mengenai manajement pembiayaan pembangunan RSUD, menurutnya tak menganut subsidi silang, meskipun kini rumah sakit rujukan masih berada di bawah RSUD Ade M Djoen Sintang. Sehingga pihaknya juga masih tergantung pada ketersediaan Dana Alokasi Umum (DAU). <br /><br />“Kalau hanya mengandalkan DAU memang agak berat. Padahal setidaknya biaya pembangunan total diperkirakan masih perlu sedikitnya Rp 30 Miliyar.” tuturnya. <strong>(phs)</strong></p>















