HARGA KARET TINGGI, PETI TETAP MARAK, POPULASI IKAN LAIS TERANCAM

oleh

Harga karet pada tingkat dunia saat ini tercata mencapai 4, 928 dolar Amerika Serikat per kilogram atau setara dengan sekitar Rp. 40.000/kg. Sedangkan pada tingkat petani di Kecamatan Ketungau Tengah harga karet mencapai Rp. 20.000/kg, bahkan ada beberapa pedagang yang berani membeli karet petani diatas harga itu. Semangat para petani saat ini sangat tinggi diimbangi dengan membaiknya pereknomian dan kesejahteraan masyarakat. <p>Meski demikian, akitifitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Sintang masih tetap saja tinggi. Di sepanjang Sungai Ketungau yang menghubungkan Kecamatan Ketungau Hilir sampai Ketungau Hulu dan Sungai Saeh yang menghubungkan Ketungau Hulu dengan wilayah Kabupaten Sanggau, para pemburu butiran emas masih terus menghidupkan puluhan buah mesin Dong Feng.</p> <p>Puluhan mesin buatan negeri tirai bambu itu terus meraung-raung setiap hari dengan 9 jam operasi yang perminggunya diperkirakan mampu menyedot ribuan kubik pasir dan lumpur dari dasar sungai lalu hanyut ke hilir sungai serta menghabiskan ribuan liter solar. Yang cukup menggelikan, para pekerja PETI yang beroperasi di Sungai Saeh yang hulunya berada di kampung Semaras, Tekalong dan Sungai Bayan yang masuk wilayah Kabupaten Sanggau, sehingga masyarakat Kabupaten Sanggau yang mengambil emasnya, keruhnya hanyut ke Sungai Ketungau. Sungai Saeh bermuara di kampung Begintang Desa Empunak Tapang Keladan Kecamatan Ketungau Hulu.</p> <p>Kondisi keruhnya Sungai Ketungau yang semakin pekat tersebut dikhawatirkan akan merusak ekosistem sungai dengan berbagai mahluk hidup di dalamnya. Sungai Ketungau sejak dulu merupakan surganya ikan silok (scleropages  formusus) namun akhirnya punah. Kini salah satu jenis ikan yang masih banyak ditemukan di sepanjang Sungai Ketungau ialah ikan lais (Kryptopterus). Saat ini ikan lais banyak diolah dengan beberapa jenis lauk pauk seperti ikan segar, ikan asin, salai dan blonsong.  Ikan lais yang diasinkan dengan bumbu buah kandis yang dimasukan kedalam perutnya yang kemudian dinamakan blonsong. Harganya pertengahan 2010 masih Rp. 100.000 saat ini sudah mencapai  Rp. 150.000  per kilogram. Didiuga penyebabnya karena perekonomian yang terus membaik dan sulitnya mendapatkan ikan lais.</p> <p>Beberapa literatur menyebutkan bahwa air yang terlalu keruh tidak baik untuk kehidupan ikan karena endapan lumpurnya terlalu tebal dan pekat, sehingga dapat mengganggu penglihatan ikan dalam air dan menyebabkan nafsu makannya berkurang. Semakin banyak dan beragam biota air yang terdapat di dalam perairan, semakin tinggi tingkat kesuburannya.</p> <p>Keberadaan makhluk hidup pada suatu daerah tergantung pada faktor lingkungan yang dapat mendukung kehidupan makhluk hidup pada daerah tersebut. Hubungan timbal balik terjadi antara makhluk hidup dengan lingkungannya baik faktor biotik maupun abiotik dalam suatu ekosistem. Apabila faktor lingkungannya sesuai, makhluk hidup dapat hidup dengan baik. Tetapi apabila faktor lingkungan berubah, hanya makluk hidup yang mempunyai kisaran toleransi yang luas terhadap perubahan tersebut, yang akan mampu bertahan hidup. Ikan lais hidup di sungai yang termasuk tipe sungai berawa banjiran. Ikan lais merupakan ikan air tawar yang mempunyai arti ekonomis penting.</p>