Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional, Muladi, menyarankan para menteri agar meningkatkan komunikasi politik kepada masyarakat, dalam upaya menjawab berbagai kritikan terhadap pemerintah. <p style="text-align: justify;">"Komunikasi politik tidak hanya dilakukan oleh presiden tapi juga menteri-menteri. Jadi menteri-menteri tidak boleh `tiarap`, saat kebijakan dikeluarkan, jangan presiden sendiri yang harus berhadapan dengan masyarakat, mereka (para menteri.red) harus lebih komunikatif," katanya di Jakarta, Rabu (26/01/2011), menanggapi isu terkait kritik yang dilontarkan para tokoh lintas agama. <br /><br />Mantan Menteri Kehakiman itu juga mengemukakan, komunikasi politik diperlukan agar masyarakat tahu sejauh mana perkembangan yang telah dilakukan oleh pemerintah. <br /><br />"Apa yang dilakukan, apa yang tidak dilakukan dan kendalanya apa, masyarakat harus tahu, jangan sampai dikatakan bohong, kata-kata bohong itu menurut saya keras sekali, saya juga pernah menjadi pejabat negara," katanya. <br /><br />Ia menyesalkan adanya pernyataan tentang kebohongan publik oleh para tokoh lintas agama karena menggunakan kata-kata yang keras itu. <br /><br />Namun demikian, menurut Muladi, pemerintah kini sebaiknya fokus untuk memperbaiki kinerja dengan memperhatikan kritik tersebut. <br /><br />"Memang ada yang belum tercapai, bukan tidak sensitif tetapi tersinggung karena kata-kata yang digunakan sangat keras, berbohong. Jadi defensif, maka yang penting bagi dia harus `straight` dalam kritik itu, laksanakan saja, mana yang bisa, mana yang tidak bisa itu dikomunikasikan pada masyarakat," katanya. <br /><br />Sebelumnya, para tokoh lintas agama mengeluarkan pernyataan berisi kritik terhadap pemerintah. Hal ini membuat kontroversi di dalam masyarakat. Pemerintah menilai, tidak ada kebohongan, namun mengakui memang ada yang belum berhasil dilaksanakan. <br /><br />Pengamat politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit, juga menilai, kritik yang dilontarkan para tokoh lintas agama tersebut kurang tepat karena kata "kebohongan" lebih menunjukkan bahasa politik, bukan bahasa agama. <br /><br />Menurut dia, sebagai tokoh agama tidak pas bila mengkritik pemerintah menggunakan bahasa-bahasa politik. <strong>(phs/Ant)</strong></p>















