SINTANG, KN – Tim Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melaksanakan penelitian dan pengumpulan informasi mengenai seni Jandeh di Kabupaten Sintang selama kurang lebih satu tahun. Hasil dari proses panjang tersebut diwujudkan dalam sebuah film dokumenter yang diharapkan menjadi arsip sekaligus media edukasi bagi generasi mendatang.
Hal itu diungkapkan oleh Ahmad Supendi, Ketua Panitia Pemutaran Film Dokumenter Jandeh yang juga merupakan anggota Tim Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, saat acara pemutaran film dan diskusi yang digelar di Hotel Bagoes Sintang pada Senin, 3 Maret 2026.
Ahmad Supendi menjelaskan bahwa penelitian dimulai sejak tahun 2025 dan berlanjut hingga awal 2026. Selama periode tersebut, tim melakukan observasi lapangan, wawancara dengan tokoh adat, serta pengumpulan berbagai data pendukung yang berkaitan dengan seni Jandeh. Seluruh rangkaian kegiatan itu kemudian dirangkum dalam bentuk video atau film dokumenter.
Ia menuturkan bahwa adat Dayak saat ini menghadapi tantangan besar akibat derasnya arus perubahan zaman. Proses asimilasi yang terjadi karena pengaruh agama, perpaduan budaya, serta masuknya teknologi baru ke lingkungan masyarakat adat menjadi faktor yang mempercepat perubahan tersebut. Kondisi ini, menurutnya, berpotensi membuat sejumlah tradisi Dayak perlahan tergerus jika tidak segera didokumentasikan dan dilestarikan.
“Atas dasar itulah Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia mendorong digitalisasi budaya. Salah satunya adalah budaya Dayak dari sub-suku Dayak Iban yang banyak mendiami wilayah Ketungau,” jelasnya.
Ia menambahkan, tim sebenarnya berkeinginan menjangkau seluruh wilayah Ketungau. Namun karena keterbatasan anggaran, pengumpulan data dan informasi difokuskan di wilayah Ketungau Hilir. Meski demikian, seluruh proses penelitian disebut berjalan lancar berkat dukungan masyarakat dan tokoh adat setempat.
Ahmad Supendi berharap film dokumenter ini dapat menjadi arsip berharga bagi generasi muda. “Harapan kami, video ini bisa menjadi dokumentasi untuk anak-anak muda dan cucu-cucu kita di masa depan, bahwa ada tradisi Dayak bernama Jandeh yang pernah dikenal luas sebelum mulai tergerus zaman,” ujarnya.
Ia pun menutup dengan harapan agar melalui dokumenter tersebut, generasi muda tetap mencintai dan melestarikan budaya mereka sendiri sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan daerah.


















