40 Guru Ikuti Pelatihan "Hypnoteaching"

Sebanyak 40 guru di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, Kamis, mengikuti pelatihan pengajaran dengan metode hipnotis (hypnoteaching) dan pengajaran interaktif (quantum teaching. <p style="text-align: justify;">"Kelebihan dari ‘hypnoteaching" dan ‘quantum teaching’ untuk menjadikan proses belajar mengajar dinamis dan menyenangkan sehingga ada interaksi yang baik antara pendidik dan peserta didik," kata Kepala Dinas Pendidikan Barito Utara Jamaludin di Muara Teweh, Kamis.<br /><br />Metode pembelajaran itu, katanya, diikuti peserta sertifikasi guru dalam jabatan dari 2006 hingga 2010.<br /><br />Menurut Jamaludin, "hypnoteaching" merupakan metode pengajaran hipnotis dengan materi yang disampaikan menggunakan bahasa-bahasa di bawah sadar yang mampu membawa daya tarik pada setiap peserta anak didik.<br /><br />Ia menjelaskan dengan metode itu peserta didik dapat berkembang sesuai dengan bakat dan minatnya, proses pemberian keterampilan banyak diberikan dan proses pembelajarannya lebih beragam.<br /><br />Di samping itu, kata dia, peserta didik dapat dengan mudah menguasai materi karena termotivasi lebih untuk belajar karena pembelajarannya bersifat aktif.<br /><br />"Para Guru dapat memantau peserta didik lebih intensif sedangkan peserta didik lebih dapat berimajinasi dan berpikir kreatif," katanya.<br /><br />Jamaludin mengatakan melalui metode itu, daya serap peserta didik lebih cepat dan bertahan lama karena peserta didik tidak menghafal, perhatian peserta didik akan tersedot penuh terhadap materi.<br /><br />Saat ini, katanya, berbagai metode dalam pengajaran semakin dikembangkan, kemajuan metode-metode balajar ini membuat proses pembelajaran menjadi semakin efisien dan hasil yang diharapkan dapat tercapai.<br /><br />"Metode-metode tersebut dapat berupa perubahan pada ‘instrumental input’ maupun pada ‘environmental input’," katanya.<br /><br />Ia mengatakan pada "instrumental input" yaitu dengan mengubah faktor-faktor yang mempengaruhi peserta didik baik secara langsung maupun tidak langsung seperti kurikulum, media pengajaran alat evaluasi hasil belajar, fasilitas sarana dan prasarana, pendidik dan sejenisnya.<br /><br />Dalam "instrumental input", katanya, peran pendidik dalam keberhasilan suatu proses pembelajaran sangatlah besar karena tiap pendidik mempunyai cara yang berbeda-beda dalam memberikan pengajaran, perbedaan pengajaran ini membuat perbedaan kondisi kelas dan tentu saja hasil yang berbeda.<br /><br />Metode itu, katanya, merupakan gabungan dari lima metode belajar mengajar seperti "Quantum Learning", "Accelerate Learning", "Power Teaching", "Neuro-Linguistic Programming" (NLP), dan "Hypnosis".<br /><br />"Pembelajaran di Indonesia selama ini banyak menggunakan metode pembelajaran konvensional dalam proses mengajar yaitu metode pembelajaran dengan cara ceramah dimana peran pendidik aktif dan peran peserta didik cenderung pasif," katanya.<br /><br />Sementara Ketua Panitia Pelatihan Marwan Samiun mengatakan "hypnoteaching" dalam pendidikan merupakan hal yang sangat bagus karena dapat membuat proses belajar mengajar menjadi lebih baik.<br /><br />Ia mengatakan "hypnoteaching" menekankan pada komunikasi alam bawah sadar murid di kelas dan luar kelas dengan berbagai cara seperti sugesti dan imajinasi.<br /><br />Sugesti memiliki kekuatan yang luar biasa, terus terngiang, dan otak mampu mengantarkan seseorang pada apa yang dipikirkan, katanya.<br /><br />Sedangkan imajinasi, merupakan proses membayangkan sesuatu terlebih dahulu baru melakukan dan guru harus mampu membiarkan siswa berekspresi dan membiarkan berimajinasi, katanya.<br /><br />Dalam pelatihan itu, Direktur El Tibiz Kalteng Rizky Mahendra dan Widyaiswara dari Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Kalteng Rusna Latifah menjadi narasumber.<strong> (das/ant)</strong></p>