Bank Indonesia bersama perbankan di Kalimantan Selatan dan Pemerintah Kabupaten Barito Kuala menjalin kerja sama untuk mengembangkan padi lokal melalui pembangunan klaster padi lokal di Barito Kuala. <p style="text-align: justify;">Kepala Bank Indonesia Banjarmasin Khairil Anwar di Banjarmasin, Jumat mengatakan, Kabupaten Barito Kuala dengan komoditas unggulannya berupa beras, khususnya varietas lokal, terbukti mampu menjadi salah satu penyangga utama ketahanan pangan Kalimantan Selatan.<br /><br />Menurut dia, ke depan diperkirakan di Kalsel akan mengalami peningkatan permintaan beras seiring bertambahnya jumlah penduduk, terlebih konsumsi masyarakat Kalsel terhada beras lokal hingga saat ini masih cukup tinggi.<br /><br />"Saya rasa ini adalah kesempatan bagi petani untuk bisa meningkatkan kesejahteraannya, asalkan dilakukan manajemen pertanian mulai dari produksi hingga pemasaran dengan baik," katanya.<br /><br />BI Banjarmasin bersama Pemprov Kalsel, Pemkab dan dinas-dinas terkait, serta perbankan yang tergabung dalam Tim Fasilitasi Percepatan Pemberdayaan Ekonomi Daerah (TFPPED) bertekad meningkatkan produksi melalui pengembangan klaster padi Lokal di Kabupaten Barito Kuala.<br /><br />Khairil Anwar mengatakan, permintaan beras di Kalsel yang cukup tinggi yang diiringi dengan kenaikan harga beras lokal yang cukup signifikan belum berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani.<br /><br />Kondisi-kondisi tersebut, yang kini harus ditangani dan dicarikan solusi oleh pemerintah kabupaten bersama BI, agar perbaikan harga beras juga mampu mendongkrak kesejahteraan petani.<br /><br />"Sebenarnya produksi padi Barito Kuala cukup tinggi, seharusnya beras tidak menjadi komoditas penyumbang inflasi di Kalsel, karena dari sisi supply telah mencukupi," katanya.<br /><br />Menurut Khairil yang juga Direktur Regional BI wilayah Kalimantan, beras lokal merupakan komoditas yang sangat penting bagi masyarakat Kalsel, sehingga harga dan pasokannya perlu terus dijaga.<br /><br />Salah satu biang penyebab tingginya inflasi sektor makanan di Kalsel ini, tambah dia, perlu dikendalikan agar tidak meresahkan dan berdampak terhadap penurunan kesejahteraan masyarakat.<br /><br />Terkait pembiayaan, data posisi Februari 2011, dana yang dihimpun perbankan Batola mencapai Rp293 miliar dengan penyaluran kredit sebesar Rp408 miliar, sehingga Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat cukup tinggi yakni 139 persen.<br /><br />Angka tersebut, kata Khairil merupakan tertinggi kedua di Provinsi Kalsel, setelah Hulu Sungai Selatan yang mencapai 144 persen.<br /><br />Sementara itu LDR kabupaten-kabupaten lainnya rata-rata dalam kisaran 33 persen hingga 106 persen.<br /><br />"Adanya partisipasi aktif perbankan dalam penyelenggaraan Sistem Resi Gudang (SRG) yang diresmikan tahun lalu juga merupakan salah satu bukti bahwa bank sangat konsen mendukung pengembangan pertanian," tambah Khairil. <strong>(phs/Ant)</strong></p>











