Komandan Korem 121 Alambanawanawai, Kolonel Inf Toto Rinanto S mengatakan maraknya illegal action di perbatasan via jalur jalan klasik ( jalan tikus ) merupakan bentuk medan kritis yang perlu diperhatikan oleh semua pihak, guna mengantisipasi dinamika perkembangan perbatasan dimasa mendatang. <p style="text-align: justify;">“Dengan demikian Kodim yang berada didaerah perbatasan mengemban tugas yang cukup berat dalam upaya menciptakan situasi dan kondisi yang mantap di wilayah perbatasan terlebih sebagai Satuan Kowil yang juga ditunjuk sebagai Satuan Tugas dalam rangka Operasi Teritorial tentunya didalam pelaksanaan tugas harus ekstra keras guna pencapaian tugas yang telah digariskan,” jelasnya.<br /><br />Ditinjau dari segi Demografi, masyarakat perbatasan terdiri dari bermacam-macam suku bangsa, bahasa, budaya, adat istiadat dan agama.<br /><br />”Hal ini tentunya sangat memerlukan perhatian khusus dari Komandan Kodim sampai kepada Babinsa didaerah dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan bangsa yang serba beraneka ragam ini, sehingga tercipta persatuan dan kesatuan bangsa,” katanya. <br /><br />Ia menambahkan, Dengan persatuan dan kesatuan yang mantap, kita dapat menjaga stabilitas keamanan yang pada akhirnya akan terhindar dari gangguan berupa Isu Sara, Isu SMS, perbuatan illegal logging, mining, trafficking, penyelundupan, peredaran narkoba dan obat-obatan terlarang serta gangguan lainnya yang berpotensi timbul diwilayah. Dengan demikian pembangunan daerah akan dapat berjalan dengan sukses dan lancar. <br /><br />”Untuk itu agar segenap anggota Kodim perbatasan selalu waspada terhadap upaya memecah belah yang hanya didasari atas dasar kepentingan kelompok atau golongan, karena bila hal ini terjadi maka berarti terjadi kemunduran atau set back. Persatuan dan Kesatuan Nasional yang kukuh dan mantap yang kita ciptakan, tidak berarti harus menghapuskan ciri keanekaragaman yang justru merupakan sumber kekayaan budaya bangsa,” pungkasnya.<strong> (phs)</strong></p>











