SINTANG, KN – Akses jalur sungai masih menjadi andalan masyarakat yang berada di Kecamatan Serawai dan Ambalau. Hal itu dikarenakan belum banyaknya akses jalan darat yang terbuka di dua kecamatan tersebut.
Seperti yang disampaikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sintang, Sandan, bahwa akses jalan darat di sana hanya ada di ibu kota kecamatan dan beberapa desa saja.
“Di dua kecamatan itu masih banyak desa-desa yang terisolir. Untuk transportasi hanya bisa memakai jalur sungai saja,” ujar wakil rakyat Daerah Pemilihan (Dapil) V Serawai-Ambalau ini, beberapa waktu lalu.
Sementara untuk memakai akses jalur sungai kata Sandan, biayanya lumayan besar, terlebih Bahan Bakar Minyak (BBM) naik, sehingga sangat memberatkan bagi masyarakat. Karena untuk mengunakan akses sungai tersebut membutuhkan BBM.
“Apalagi kondisi ekonomi masyarkat saat ini melemah setelah dihantam berbagai bencana, seperti banjir, Covid-19 dan naiknya harga BBM. Diperparah lagi Serawai-Ambalau ini memang dari dulu tidak pernah merasakan BBM subsidi,” tuturnya.
Sebenarnya kata Sandan, dulu sudah pernah dimulai untuk dibuka akses jalan darat ke desa-desa, hanya saja terhenti akibat badai Covid-19 yang menghantam.
“Dulu kita sudah mulai buka akses jalan darat ke desa-desa, tapi terkendala bencana, yang paling parah karena Covid-19 pada tahun 2020 lalu, sehingga semuanya terhenti karena tidak ada anggaran untuk meneruskan pembukaan akses jalan ke desa-desa itu,” terang Sandan.
Perihal tersebut tidak membuat sandan berdiam diri, diakuinya berbagai upaya telah dilakukan, seperti mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) Sintang supaya mengusulkan ke pemerintah pusat untuk bisa mendapatkan program pembukaan jalan.
“Usulan programnya bisa melalui program desa tertinggal atau bisa juga melalui TMMD. Yang pasti kita juga sudah berupaya agar desa-desa di Serawai-Ambalau keluar dari keterisoliran,” pungkasnya Sandan. (pul)














