Pemerintah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah menetapkan lima desa di wilayah Kecamatan Teweh Tengah menjadi kawasan terintegrasi untuk seluruh kegiatan perikanan atau minopolitan. <p style="text-align: justify;">"Wilayah lima desa itu sangat cocok dikembangkan budidaya ikan karena didukung kebutuhan bahan baku air yang berasal dari dam, danau dan sungai," kata Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Barito Utara (Barut), Sunoto di Muara Teweh, Selasa. <br /><br />Menurut Sunoto, lima desa di wilayah Kecamatan Teweh Tengah yang menjadi kawasan minopolitan itu meliputi Desa Trinsing, Trahean, Transbangdep dan Bintang Ninggi. <br /><br />Masyarakat setempat, kata dia, mengembangkan budidayakan ikan menggunakan kolam, jaring apung dan keramba dengan sumber air berasal dari Sungai Barito, Dam Trahean dan Danau Butong. <br /><br />"Untuk sementara kami memfokuskan memberikan bantuan bibit ikan nila gift secara cuma-cuma dan ke depannya ditambah lele, patin dan ikan mas," katanya didampingi Kasi Produksi Perikanan Barut, Suprayetno. <br /><br />Sunoto menjelaskan, ratusan ribu ekor bantuan benih ikan nila gift ini sudah dilakukan sejak dua tahun terakhir dan tahun 2011 akan disalurkan sebanyak 40.000 benih ikan sejenis kepada masyarakat di lima desa tersebut. <br /><br />Selain itu, katanya, juga tahun ini dibangun sebanyak 40 unit kolam untuk masyarakat di Desa Trahean dan Transbangdep, pembangunan kolam dan sarana lain akan dilakukan di sejumlah desa lainnya secara bertahap. <br /><br />"Budidaya perikanan di lima desa ini nantinya kami usulkan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk dibuatkan surat keputusan (SK) kawasan minopolitan, dengan harapan pengembangan kelanjutannya dapat didanai pemerintah pusat," jelasnya. <br /><br />Dia mengatakan, bantuan bibit ikan ini selain difokuskan untuk masyarakat yang masuk kawasan minopolitan, juga kepada petani lainnya pada sejumlah desa dan kecamatan. <br /><br />Permintaan benih ikan dari masyarakat relatif tinggi yang setahunnya mencapai lima juta ekor, namun karena terbatasan dana maka hanya sebagian yang dapat dipenuhi dengan produksi sekitar satu juta benih per tahun. <br /><br />Untuk memenuhi kebutuhan benih ikan itu, kata dia, pihaknya berupaya ke depannya meningkatkan produksi melalui Balai Benih Ikan (BBI) Trinsing Kecamatan Teweh Tengah untuk ikan nila, gurame dan mas. <br /><br />Sedangkan di BBI Lahei Kecamatan Lahei dibudidayakan ikan papuyu (batok), patin dan jelawat. <br /><br />"Dua lokasi pembudidayaan itu merupakan sentra produksi ikan air tawar atau sungai di daerah ini," katanya. <br /><br />Peningkatan produksi itu dilakukan di antaranya pengembangan teknologi pembuatan pakan, memperbaiki induk ikan dengan mengganti bibit yang baru dan memperbanyak kolam. <br /><br />"Akibat terbatasnya produksi ini maka sebagian benih ikan masih didatangkan warga dari luar daerah," kata Sunoto. <br /><br />Sementara itu, seorang petani ikan di Kelurahan Lanjas Kecamatan Teweh Tengah, Mukhlis membenarkan saat ini ribuan ekor bibit dan ikan yang dibudidayanya melalui keramba di Sungai Barito sebagian besar berasal dari bantuan pemerintah daerah. <br /><br />"Namun kalau masih kurang bibit ikan yang dipelihara seperti nila, emas dan patin itu, saya mendatangkan dari luar daerah seperti di wilayah Kalimantan Selatan," katanya.<strong> (das/ant)</strong></p>















