Dinas Peternakan Samarinda Seleksi Ternak Dari Luar

oleh

Dinas Peternakan dan Perikanan Kota Samarinda, Kalimantan Timur, melakukan seleksi ketat terhadap ternak, khususnya sapi yang masuk ke kota itu. <p style="text-align: justify;">"Walaupun telah melalui serangkaian prosedur pengiriman, namun setiap ternak yang masuk ke Samarinda pasti kami seleksi kembali. Tidak hanya dokumen tetapi setiap hewan ternak yang datang ke Samarinda diteliti ulang," kata Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kota Samarinda, Rini Purwanti di Samarinda, Jumat. <br /><br />Sejauh ini, sapi yang umumnya didatangkan dari Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Pulau Jawa itu tidak ada yang terindikasi terserang penyakit antraks. <br /><br />"Sebagai daerah penerima, kami sangat selektif dan secara ketat melakukan pengecekan hewan ternak itu. Jadi, sejauh ini, belum ada hewan ternak yang masuk ke Samarinda terindikasi terkena penyakit," katanya. <br /><br />Biasanya, lanjutnya, sebelum dikirim, daerah asal juga memberlakukan pemeriksaan fisik dan dokumen hewan itu dan jika terindikasi berpenyakit maka penyalur tidak akan mengirimnya. <br /><br />Saat tiba di Samarinda, hewan itu juga diperlakukan sama yakni melalui proses karantina sebelum akhirnya dibawa ke RPH (Rumah Pemotongan Hewan) untuk proses pemotongan. <br /><br />Setiap tahun kata Rini Purwanti, sapi yang masuk ke Samarinda mencapai 12 ribu ekor. <br /><br />"Tapi, tidak semua sapi itu untuk kebutuhan warga Kota Samarinda tetapi juga pasokanke Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Bontang," katanya. <br /><br />"Umumnya, sapi potong itu banyak didatangkan dari Pulau Sulawesi sementara untuk sapi bibit banyak didatangkan dari Jawa Timur dan NTB," katanya. <br /><br />Dia mengakui, sapi yang dipelihara warga Samarinda, kecil kemungkinan terserang penyakit antraks. <br /><br />"Kadar keasaman tanah di Samarinda sangat tinggi sehingga mampu menetralisir bakteri bacillius anthracis yang berbentuk spora. Jadi, penularan antraks dari daging hewan ke manusia sulit tertular karena alam Samarinda sulit terkontaminasi bakteriantraks," katanya. <br /><br />Namun, penularan penyakit itu dapat terjadi jika daging yang dikonsumsi oleh warga Samarinda merupakan daging impor yang telah mengandung bakteri antraks. <br /><br />"Kami juga telah melakukan langkah antisipasi dengan melakukan uji kelayakan dan tes laboratorian pada daging impor tersebut," kata Rini. <strong>(das/ant)</strong></p>