Istana : Survey Indo Barometer Punya Tujuan Tertentu

oleh

Staf Khusus Presiden Bidang Informasi dan Humas, Heru Lelono, menilai survei Indo Barometer yang menyimpulkan bahwa publik lebih mendambakan kondisi seperti masa Orde Baru, memiliki tujuan tertentu. <p style="text-align: justify;">Staf Khusus Presiden Bidang Informasi dan Humas, Heru Lelono, menilai survei Indo Barometer yang menyimpulkan bahwa publik lebih mendambakan kondisi seperti masa Orde Baru, memiliki tujuan tertentu.<br /><br />"Sebuah survei pasti punya tujuan. Survei yang dilakukan Indo Barometer kali ini pasti juga punya tujuan, namun saya belum jelas tujuannya untuk apa," katanya di Jakarta, Selasa.<br /><br />Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu (15/5), menyatakan, survei yang dilakukan lembaganya menyimpulkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini mendambakan kondisi seperti era Orde Baru, ketika pemerintahan dipimpin Presiden Soeharto.<br /><br />Dalam survei yang dilakukan pada 25 April sampai 4 Mei 2011, Indo Barometer menemukan 40,9 persen responden memilih kondisi pada saat masa Orde Baru dan hanya 22,8 persen yang memilih kondisi saat ini (di masa Reformasi). Survei Indo Barometer itu dilakukan atas 1.200 responden di 33 provinsi di tanah air.<br /><br />Secara persentase, publik perkotaan yang menyatakan Orde Baru lebih baik, mencapai 47,7 persen atau lebih tinggi dibandingkan publik pedesaan yakni sebesar 35,7 persen. Selain itu, responden dari semua pulau juga mengganggap Orde Baru lebih baik dari pada Era Reformasi kecuali Pulau Sulawesi.<br /><br />Menanggapi hasil survei itu, Heru Lelono mengatakan, tujuan survei itu belum jelas, karena ada beberapa pertanyaan yang belum bisa dijawab.<br /><br />Pertama, katanya, apa relevansinya memperbandingkan saat ini dengan masa Orde Baru, karena yang pasti semua orang sudah tahu bahwa situasi saat ini jauh lebih baik dari dahulu.<br /><br />Kedua, lanjut dia, kalau melakukan perbandingan dengan masa Orde Baru, selayaknya respondennya sudah dewasa dan mampu menilai keadaan masa Orde Baru tersebut.<br /><br />Ketiga, katanya, hampir pasti tidak bisa diperbandingkan secara langsung (aple to aple) keadaan saat ini dan Orde Baru, karena sekarang kehidupan sudah sedemikian demokratis, tidak lagi otoritarian dan main bungkam seperti masa Orde Baru.<br /><br />"Sehingga hari ini semua rakyat punya hak untuk bicara dan berpendapat. Kata stabilitas hari ini dan masa Orde Baru berbeda. Stabilitas hari ini bisa terjadi kalau sistem berjalan dengan baik. Namun pada masa Orde Baru keadaan tampak stabil karena rakyat apatis dan takut berpendapat," ujarnya.<br /><br />Karena itu, Heru Lelono berpendapat, survei yang berguna saat ini seharusnya dilakukan secara berkala, seperti yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), walaupun lembaga survei boleh memilih topik, responden dan metodenya sendiri.<br /><br />"Sehingga survei tersebut dapat dijadikan masukan bagi pemerintah, siapa pun presidennya," katanya.<br /><br />Ia menambahkan, sebagai "second opinion", di berbagai topik yang paling bermanfaat buat rakyat banyak seperti sosial, kebangsaan budaya, dan ekonomi.<br /><br />"Kalau isinya politik, biasanya hanya dimanfaatkan oleh sejumlah elite saja. Itulah mengapa saya katakan bahwa survei pasti punya tujuan. Dan tujuan yang baik, bila isi dan topiknya bermanfaat buat kemajuan bangsa," ujar Heru Lelono.<br /><br />"Sebuah survei pasti punya tujuan. Survei yang dilakukan Indo Barometer kali ini pasti juga punya tujuan, namun saya belum jelas tujuannya untuk apa," katanya di Jakarta, Selasa.<br /><br />Sebelumnya, Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu (15/5), menyatakan, survei yang dilakukan lembaganya menyimpulkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini mendambakan kondisi seperti era Orde Baru, ketika pemerintahan dipimpin Presiden Soeharto.<br /><br />Dalam survei yang dilakukan pada 25 April sampai 4 Mei 2011, Indo Barometer menemukan 40,9 persen responden memilih kondisi pada saat masa Orde Baru dan hanya 22,8 persen yang memilih kondisi saat ini (di masa Reformasi). Survei Indo Barometer itu dilakukan atas 1.200 responden di 33 provinsi di tanah air.<br /><br />Secara persentase, publik perkotaan yang menyatakan Orde Baru lebih baik, mencapai 47,7 persen atau lebih tinggi dibandingkan publik pedesaan yakni sebesar 35,7 persen. Selain itu, responden dari semua pulau juga mengganggap Orde Baru lebih baik dari pada Era Reformasi kecuali Pulau Sulawesi.<br /><br />Menanggapi hasil survei itu, Heru Lelono mengatakan, tujuan survei itu belum jelas, karena ada beberapa pertanyaan yang belum bisa dijawab.<br /><br />Pertama, katanya, apa relevansinya memperbandingkan saat ini dengan masa Orde Baru, karena yang pasti semua orang sudah tahu bahwa situasi saat ini jauh lebih baik dari dahulu.<br /><br />Kedua, lanjut dia, kalau melakukan perbandingan dengan masa Orde Baru, selayaknya respondennya sudah dewasa dan mampu menilai keadaan masa Orde Baru tersebut.<br /><br />Ketiga, katanya, hampir pasti tidak bisa diperbandingkan secara langsung (aple to aple) keadaan saat ini dan Orde Baru, karena sekarang kehidupan sudah sedemikian demokratis, tidak lagi otoritarian dan main bungkam seperti masa Orde Baru.<br /><br />"Sehingga hari ini semua rakyat punya hak untuk bicara dan berpendapat. Kata stabilitas hari ini dan masa Orde Baru berbeda. Stabilitas hari ini bisa terjadi kalau sistem berjalan dengan baik. Namun pada masa Orde Baru keadaan tampak stabil karena rakyat apatis dan takut berpendapat," ujarnya.<br /><br />Karena itu, Heru Lelono berpendapat, survei yang berguna saat ini seharusnya dilakukan secara berkala, seperti yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), walaupun lembaga survei boleh memilih topik, responden dan metodenya sendiri.<br /><br />"Sehingga survei tersebut dapat dijadikan masukan bagi pemerintah, siapa pun presidennya," katanya.<br /><br />Ia menambahkan, sebagai "second opinion", di berbagai topik yang paling bermanfaat buat rakyat banyak seperti sosial, kebangsaan budaya, dan ekonomi.<br /><br />"Kalau isinya politik, biasanya hanya dimanfaatkan oleh sejumlah elite saja. Itulah mengapa saya katakan bahwa survei pasti punya tujuan. Dan tujuan yang baik, bila isi dan topiknya bermanfaat buat kemajuan bangsa," ujar Heru Lelono.(Eka/Ant)</p>