Jadikan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional !

oleh

Delapan Mei merupakan salah satu momen penting bagi rakyat Indonesia, terutama kaum buruh/pekerja Indonesia, bertepatan dengan meninggalnya pahlawan buruh Marsinah. Marsinah di bunuh Rezim Soeharto karena bersama buruh PT Catur Putera Perkasa (PT CPS) tahun 1993 melakukan perlawanan menuntut kenaikan upah, cuti haid, cuti hamil, perhitungan upah lembur, pembubaran SPSI yang dianggap tidak mewakili kepentingan buruh dan kebebasan hak buruh untuk berserikat. <p style="text-align: justify;">Mayat marsinah yang waktu itu diketemukan tanggal 8 Mei 1993, di pinggir hutan jati Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur, dengan kondisi yang mengenaskan. Vaginanya, tulang panggul, dan lehernya hancur, serta perutnya luka tertusuk sedalam 20 sentimeter, sekujur tubuhnya penuh memar, lengan dan pahanya lecet.<br /><br />Delapan belas tahun sudah peristiwa Marsinah berlalu, namun persoalan kaum buruh ternyata masih sama seperti dulu. Upah murah, PHK, pemberangusan serikat buruh (union busting), ditambah dengan sistem kerja kontrak dan outsourcing (Perbudakan Modern). <br /><br />Semua fenomena itu adalah dampak dari penerapan Labor Market Flexibility (LMF) atau pasar Tenaga Kerja yang bersifat fleksibel oleh pemerintah, melalui pemberlakuan UU No 13 Tahun 2003 yang sarat kepentingan para pemodal. Penerapan LMF adalah agenda pemerintah menjalankan skema neoliberalisme di sektor perburuhan.<br /><br />Selain LMF, agenda neoliberalisme yang menguntungkan para pemilik modal adalah program privatisasi/swastanisasi terhadap berbagai aset publik. Privatisasi terhadap beberapa BUMN, lembaga pendidikan serta kesehatan merupakan upaya intervensi pemilik modal untuk mengeruk keuntungan dari pelayanan publik. Dampaknya jelas adalah kenaikan biaya yang sangat tinggi untuk pelayanan publik tersebut, misalnya saja kenaikan biaya pendidikan, biaya kesehatan, tarif listrik, air dan yang lainnya.<br /><img src="../../data/foto/imagebank/20110509190827_4AB0388.JPG" alt="" width="242" height="173" />                                       <img src="../../data/foto/imagebank/20110509191005_6E7CBD1.JPG" alt="" width="242" height="173" /><br />Di sinilah benang merah bagaimana neoliberalisme (penjajahan gaya baru) adalah musuh bersama para pekerja dan mahasiswa. Salah satu agenda neoliberalisme untuk meliberalisasi dunia pendidikan dengan programnya menswastanisasi beberapa universitas negeri (otonomi kampus), pada gilirannya telah membawa dampak buruk terhadap para mahasiswa dan pekerja pendidikan.</p> <p style="text-align: justify;">Swastanisasi telah memicu kenaikan biaya gila-gilaan yang dibebankan kepada para mahasiswa serta membuat status para pekerja pendidikan menjadi tidak jelas. Status para pekerja pendidikan, mulai dari dosen, tenaga administrasi, satpam, tukang parkir, cleaning service banyak yang bukan PNS, tapi hanya menjadi pekerja honorer, pekerja kontrak dan juga Outsourcing.<br /><br />Dampak buruk dari agenda liberalisasi dunia pendidikan ini bisa kita lihat saat beberapa waktu lalu pada momen peringatan Hardiknas tanggal 2 Mei 2011, sekitar 500 orang dari paguyuban dosen dan pekerja pendidikan Universitas Indonesia berdemonstrasi ke gedung DPR menuntut perubahan status menjadi PNS. <br /><br />Aksi itu kemudian dilanjutkan dengan aksi mogok kerja pada rabu tanggal 4 Mei 2011 di kampus UI menekan Pejabat Struktural UI untuk mengurus perubahan status kerjanya. Seperti yang diungkapkan oleh Presidium Paguyuban Pekerja UI, Andri G Wibisana kepada JPPN.com, " bahwa seperti yang di atur dalam PP No.66 Tahun 2010 bisa memungkinkan seluruh pegawai di UI ini menjadi PNS".<br /><br />Kondisi yang terjadi di UI itu sebenarnya juga tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Unair. Sekedar di ketahui sebagian dosen dan para pekerja pendidikan sampai saat ini status kerjanya banyak yang tidak jelas, hanya berstatus pekerja honorer, kontrak atau outsourcing. Upah/gaji yang di terima para pekerja juga jauh dari standar hidup layak dan bahkan parahnya ada yang di bawah Upah Minimum Kota (UMK) Surabaya yang sebesar Rp 1.115.000,-. <br /><br />Dari temuan data kita di lapangan bahkan ada pekerja cleaning service yang gajinya hanya Rp 600.000,- atau Rp 800.000,- per bulan, yang tentunya bisa sama-sama kita ketahui jauh dari kata layak untuk memenuhi kebutuhan hidup di kota Surabaya, yang biaya hidupnya sedemikian mahal ini.<br /><br />Gambaran kondisi diatas, sedikit menggambarkan bagaimana kondisi perburuhan dari tahun ke tahun yang ternyata belum berubah serta ada keterkaitan erat antara dunia pendidikan dan perburuhan. Politik upah murah, sistem kerja kontrak dan outsourcing tidak hanya akan membuat para pekerja berada dalam jurang kemiskinan, tapi membuat masa depan mahasiswa juga semakin suram. <br />Sebagian besar mahasiswa yang lulus dan akan bekerja, pada giliranya juga akan masuk dalam jeratan politik upah murah dan Perbudakan Modern tersebut. Para pekerja pendidikan pun statusnya juga semakin tidak jelas dan sebagian besar dari pekerja pendidikan tersebut mungkin hanya bisa bermimpi untuk bisa mengkuliahkan anaknya di sebuah perguruan tinggi negeri besar seperti UI atau Unair, yang biayanya semakin mahal.<br /><br />Perjuangan dan pengorbanan kawan marsinah delapan belas tahun yang lalu itu, seharusnya menjadi menjadi panutan dan inspirasi bagi rakyat Indonesia, khususnya kaum buruh untuk melawan kekuasaan neoliberalisme. Marsinah adalah simbol perlawanan kaum tertindas dan kemanusiaan yang berhadap-hadapan dengan kolaborasi jahat pemilik modal dan rezim neoliberal beserta segala aparat kekerasannya. Dan neoliberalisme senyata-nyatanya adalah musuh bersama para mahasiswa dan kaum buruh Indonesia.<br /><br />Maka dari itu, kami dari Forum Advokasi Mahasiswa Unair menyatakan sikap :<br /><br />1. Jadikan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional  <br /><br />2. Tetapkan Upah Layak untuk Buruh.<br /><br />3. Hapus Sistem Kerja Kontrak dan Outsourcing (Perbudakan Modern).</p> <p style="text-align: justify;"> </p> <p style="text-align: justify;"><strong>Foto Perstiwa</strong></p> <p style="text-align: justify;"><img src="../../data/foto/imagebank/20110509190850_240CB9A.JPG" alt="" width="242" height="173" /> <img src="../../data/foto/imagebank/20110509191033_08F37F3.JPG" alt="" width="242" height="173" /></p> <p style="text-align: justify;"><img src="../../data/foto/imagebank/20110509191137_33B474D.JPG" alt="" width="242" height="173" /> <img src="../../data/foto/imagebank/20110509191157_99E695E.JPG" alt="" width="242" height="173" /></p> <p style="text-align: justify;"><img src="../../data/foto/imagebank/20110509190557_AEE0723.JPG" alt="" width="242" height="173" /> <img src="../../data/foto/imagebank/20110509190621_759C81E.JPG" alt="" width="242" height="173" /></p> <p style="text-align: justify;"><img src="../../data/foto/imagebank/20110509190727_E3ECBE6.JPG" alt="" width="242" height="173" /></p> <p style="text-align: justify;"> </p> <p style="text-align: justify;"><em><strong>Foto by : FAM Unair</strong></em></p>