Menag : Waspadai pPerubahan Anak Ke Lebih Buruk

oleh

Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali meminta kepada para tokoh agama, pendidik dan pemuka masyarakat di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) untuk mewaspadai perubahaan anaknya karena dinamika sosial bisa saja membawa pada keadaan yang lebih buruk. <p style="text-align: justify;">Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali meminta kepada para tokoh agama, pendidik dan pemuka masyarakat di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) untuk mewaspadai perubahaan anaknya karena dinamika sosial bisa saja membawa pada keadaan yang lebih buruk.<br /><br />"Saya perlu memberi penegasan, tokoh dan pemuka agama mewaspadai perubahan di sekitar kita," katanya ketika memberi pengarahan kepada para pejabat Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara, di Manado, Minggu.<br /><br />Ia mengatakan perubahan di masyarakat demikian cepat. Dinamika sosial harus diwaspadai. Tentu dapat membawa konsekuensi, yaitu jika tidak ikut bergerak bersama bisa tergerus.<br /><br />Di sisi lain, dinamika dalam kehidupan nyata bisa terjadi kolaborasi, namun bisa pula saling bergesek. Ada aspek yang ikut terpengaruh. "Bisa melahirkan hal yang positif dan negatif," katanya.<br /><br />Bisa jadi dalam dinamikanya melahirkaan sesuatu yang baik, namun di sisi lain bisa memberi dampak buruk, karena adanya gesekan.<br /><br />Dalam dinamika sosial itu, gesekan tak pernah berhenti, karena itu pendidikan agama dan kerukunan yang menjadi bagian dalam proses kehidupan, harus dijaga agar tak melahirkan kekecewaan bagi umat.<br /><br />Kualitas kerukunan agama, lanjut dia, penting ditekankan pada peningkatan kualitas kehidupan beragama. Kerukunan beragama perlu mendapat perhatian. Mencegah segala larangannya dengan menjadikkan agama sebagai sumber motivasi untuk kesejahteraan penting dikedepankan.<br /><br />"Agama harus diimplementasikan dalam hubungan dengan alam, Tuhan, dan lingkungan. Agama harus menjadi sumber motivasi untuk menggapai kesejahteraan umat," katanya.<br /><br />Menag menyatakan perubahan di masyarakat pun bisa terjadi pada bidang lainnya, seperti informasi teknologi informasi. Teknologi informasi itu, bisa dimaknai sebagai perubahan yang dapat membawa buruk dan kebaikan. Tergantung sumber daya manusia itu sendiri.<br /><br />Agama, menurut dia, di sini seharusnya bisa menjadi sebagai pengikat sosial. Namun dalam kenyataannya bisa mengubah hati dan pikiran karena dinamika sosial dan kemajuan teknologi informasi. Bentuknya, antara lain, adanya radikalisme.<br /><br />"Mana ada ajaran agama mengajak untuk saling bunuh," katanya.<br /><br />Untuk itu, ia mengajak pemuka agama untuk secara berkesinambungan memantau anak didik yang ada di lembaga pendidikaan, guna mencegah ajaran aliran paham kekeras masuk, sebab agama mengajarkan kelembutan.<br /><br />Ia mengimbau para pemuka agama untuk ikut bersama mencegah masuknya ajaran atau paham yang bisa masuk melalui lembaga pendidikan.<br /><br />Kepada para orangtua diminta untuk tak sepenuhnya menyerahkan pendidikan anak kepada lembaga pendidikan tanpa memperhatikan perubahan yang terjadi pada pribadi anak.<br /><br />Pendidikan keluarga sangat penting. Mengaji pada saat magrib sangat dianjurkan. Belajar malam hari sangat perlu mendapat perhatian. Hindari anak menyaksikan tayangan tak mendidik, seperti tayangan mistik.<br /><br />Ia mengakui bahwa perubahan sosial sangat bepengaruh terhadap kerukunan beragama. Ego bahwa agama yang dianut seorang umat paling baik masih melekat, padahal sistem nilai dan kultur punya egoisme masing-masing yang jika tak dapat diturunkan bisa membawa kepada kemarahan. Harus disadari bahwa perbedaan adalah kodrati.<br /><br />Tuhan menciptakan manusia tentu berbeda-beda. Bayangkan jika ada satu juta orang kembar. Jadi, perbedaan itu tak boleh diingkari. Jika mengingkari sama dengan mengingkari Tuhan. Karena itu, ia minta, agar persatuan tetap dijaga dalam bingkai Binneka Tunggal Ika.(Eka/Ant)</p>