Dalam beberapa hari ini, media di Kabupaten Sintang gencar memberitakan Dana Rp 25 miliar yang terungkap pada saat ratusan warga Ketungau (jalur Ketungau) mendatangi DPRD Sintang pada, Senin (02/05/2011). <p style="text-align: justify;">Aksi warga Ketungau tersebut ditujukan kepada Pemerintah Kabupaten dan Provinsi terkait dana yang pernah dijanjikan oleh Gubernur Kalimantan Barat Cornelis saat yang bersangkutan berada di jalur Ketungau pada masa Kampanye Pemilukada di Sintang tahun lalu.<br /><br />Meskipun pada saat aksi, Bupati Sintang tidak menemui secara langsung, karena yang bersangkutan hadir di DPRD Sintang dengan kapasitas untuk menyampaikan pidato LKPJ. Namun demikian Bupati tetap menerima masyarakat di rumah dinas Bupati Sintang.<br /><br />Dalam pertemuan tersebut, Bupati menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui perihal dana Rp 25 miliar seperti yang disampaikan warga Ketungau mengutip pernyataan Gubernur Kalimantan Barat Cornelis saat berada di Jalur Ketungau. Warga Ketungau atas pernyataan tersebut, berniat untuk mempertanyakan langsung kepada Gubernur Kalimantan Barat.<br /><br />Bupati Sintang sendiri atas keinginan tersebut mempersilahkan mereka untuk mencari kejelasannya langsung kepada Cornelis. Sepucuk surat pengantar kepada Gubernur-pun dibuat untuk disampaikan melalui perwakilan warga Ketungau yang akan menghadap gubernur.<br /><br />Diluar dugaan, hasil pertemuan perwakilan warga Ketungau dengan Cornelis yang menerima warga tersebut diruang kerjanya sungguh sangat mengejutkan warga Sintang khususnya bahkan mungkin Kalimantan Barat secara umum.<br /><br />Mengutip pernyataan Gubernur Kalimantan Barat disebuah harian ternama Kalimantan Barat, Kapuas Post terbitan Jumat, 06/05/2011 dengan judul “GUBERNUR SEBUT MILTON PEMBOHONG” yang ditulis besar dihalaman utama. Dapat digambarkan sebuah ungkapan dengan tensi tinggi telah di ucapkan oleh seorang Kepala Daerah (Gubernur) kepada bawahannya (Bupati).<br /><br />Bila dicermati, hubungan antara Cornelis (Gubernur) dengan Milton Crosby (Bupati) dinilai banyak kalangan memang kurang begitu harmonis. Hubungan yang kurang harmonis ini ditengarai berhubungan dengan proses PKR atau rencana pembentukan provinsi Kapuas Raya di timur Kalimantan Barat. Namun hubungan mereka sedikit harmonis ketika menjelang Pemilukada Sintang.<br /><br />Kala itu Milton Crosby selaku Bupati Sintang yang kembali maju sebagai calon Bupati untuk periode kedua didukung juga oleh PDI Perjuangan dibawah kepemimpinan Cornelis selaku Ketua DPD PDI-Perjuangan Kalimantan Barat. Bahkan dirinya saat itu sudah beberapa kali melakukan kegiatan di Sintang.<br /><br />Kalau ada ungkapan bagi dunia politik “Didunia Politik Tak Ada Kawan Yang Abadi” bila dikaitkan dengan kondisi ini, memanglah kenyataan.<br /><br />Polemik keduanya sebenarnya tidak akan terjadi jika mereka mengedepankan prinsip komunuikasi yang sewajarnya patut dilakukan oleh pemimpin sehingga menjadi cerminan bagi rakyatnya.<br /><br />Dalam kondisi ini, penulis mencoba untuk memberikan pandangannya dari sisi komunikasi serta gaya kepemimpinan yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin.<br /><br />Dalam ilmu komunikasi, dijelas bahwa komunikasi sebagai sebuah proses yang dapat memungkinkan para pelaku komunikasi sampai pada pemaknaan secara bersama-sama melalui pertukaran pesan / interchange of messages (Rubin&Rubin:3:2005).</p> <p style="text-align: justify;"><br /><img src="../../data/foto/imagebank/20110506051810_CCC0495.jpg" alt="" width="601" height="408" /></p> <p style="text-align: justify;">Bila disandingkan dengan yang terjadi diantara keduanya dalam konteks masalah yang terjadi, penulis menilai telah terjadi kesalahan dalam komunikasi. Penyampaian yang tidak jelas menjadi faktor penyebabnya.<br /><br />Milton sendiri sudah mengakui hal tersebut. Dan ini artinya harus ada perbaikan yang dilakukan sehingga komunikasi kembali normal dan masalah tidak meluber kemana-mana. <br />Penulis juga menyimpulkan, ada beberapa penyebab peristiwa ini terjadi:</p> <ol> <li>Belum terjadi kesamaan makna</li> <li>Ada poin-poin penyampaian yang tidak bisa diterima</li> <li>Bahasa yang dipergunakan tidak mudah dipahami</li> <li>Suasana yang tidak mendukung.</li> </ol> <p style="text-align: justify;"><br />Oleh karena itu, penulis berpendapat hendaknya kedua pemimpin harus menunjukan jiwa besarnya selaku pemimpin yang telah dipercaya dan dipilih langsung oleh masyarakat. Keduanya juga harus menjadi contoh bagaimana seorang pemimpin yang mempunyai kemampuan tinggi dalam menyelesaikan setiap persoalan.<br /><br />Menurut penulis, yang paling tepat adalah keduanya bertemu dalam silahturahmi non formal, yang sebelumnya dilakukan terlebih dahulu diberikan ruang mediasi antar staf untuk mempertemukan keduanya. Intinya, penulis mengharapkan keduanya lebih mengedepankan kepentingan yang lebih umum dengan menanggalkan jubah <span style="text-decoration: underline;"><strong>egosentris.</strong></span> <em><strong>(egosentris dalam pengertiannya adalah menjadikan diri sendiri sbg titik pusat pemikiran atau menilai segalanya dari sudut diri sendiri)</strong></em><br /><br />Dengan demikian, keduanya dapat menjelaskan yang sebenarnya terkait dengan polemik yang terjadi saat ini. Jangan sampai masyarakat menjadi <span style="text-decoration: underline;"><strong>apatis</strong></span> terhadap pemimpin dan segala usaha yang dilakukan bagi rakyatnya. <em><strong>(Apatis dalam pengertiannya adalah sikap yang acuh tak acuh; masa bodoh atau tidak peduli)</strong></em><br /><br />John C.Maxwell dalam bukunya yang berjudul <strong>“The Winning Attitude”</strong> mengambarkan seperti apa sikap yang harus dilakukan oleh seorang pemimpinan.</p> <ol> <li style="text-align: justify;">Pemimpim harus mengembangkan kepercayaan kepada orang lain. Bila pemimpin dipercayai oleh rakyatnya itu sudah lumayan hebat (karena saat ini di Indonesia rakyat justru krisis kepercayaan), tapi akan menjadi hal yang sangat luar biasa apabila justru pemimpin yang percaya kepada rakyatnya. Abraham Lincoln berkata “kalau anda ingin merebut hati seseorang agar mendukung perjuangan anda, mula-mula yakinkah dia bahwa anda sahabatnya. Lalu selidikilah apa yang ingin dicapainya,”</li> <li style="text-align: justify;">Pemimpin harus membuat perubahan pribadi pada dirinya sendiri, sebelum meminta orang lain berubah. Para pemimpin yang sukses bukan hanya mengatakan apa yang harus dilakukan, tapi mereka harus memperlihatkannya. Orang meniru dari apa yang dilihatnya dari sang pemimpin. Apa yang dihargainya akan pula dihargai oleh rakyatnya. Tujuan dari pemimpin akan menjadi tujuan rakyatnya pula.</li> </ol> <p style="text-align: justify;"><br />Penulis dan juga masyarakat Sintang serta Kalimantan Barat pada umumnya mengharapkan agar kedua pemimpin tersebut dapat menunjukkan gaya kepemimpinan seperti yang dituliskan John C.Maxwell dalam bukunya yang berjudul <strong>“The Winning Attitude”.</strong><br />Semoga…….<br /><br /><em><strong>(Penulis adalah redaktur media www. kalimantan-news.com)</strong></em></p>











