Manajemen PT PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Barat akan merazia layangan sepanjang hari hingga akhir tahun untuk mencegah ancaman kerusakan berat di sistem kelistrikan terutama Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, dan Pontianak. <p style="text-align: justify;">"Kuat-kuatan dengan pemain layangan, siapa yang tahan," kata General Manajer PLN Kalbar, Bambang Budiarto, di Pontianak, Sabtu (19/02/2011). <br /><br />PLN mencatat dalam dua minggu terakhir terjadi empat kali padam total di sistem Khatulistiwa karena gangguan di jaringan terutama dipicu layangan yang menggunakan benang kawat. <br /><br />Sistem Khatulistiwa selain melayani tiga daerah tersebut, juga Kota Ngabang dan Singkawang. Secara keseluruhan, daya mampu PLN di sistem tersebut mencapai 200 MW. Namun, ada perbaikan di PLTGU berkapasitas 30 MW sementara beban berkisar 160 MW. <br /><br />Cadangan PLN saat ini sekitar 10 MW. Bambang Budiarto menjelaskan, gangguan di transmisi 150 kilo Volt yang menghubungkan pembangkit di Sungai Raya dengan Siantan karena tali kawat layangan kerap terjadi. <br /><br />"Ini dapat merusak mesin pembangkit karena berhenti tiba-tiba. Dampaknya, bisa jauh lebih parah," kata dia. <br /><br />Ia menambahkan, untuk memulihkan ke kondisi normal kalau terjadi pemadaman mendadak, setidaknya butuh waktu tiga jam. "Belum lagi ancaman kawat transmisi putus," kata dia. <br /><br />Ia akan mengundang jajaran Muspida Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya dan Pontianak terkait penanganan pemain layang-layang yang menggunakan kawat baja. <br /><br />PLN sendiri menyiapkan 20 orang yang akan turun tiap hari merazia layangan. Mereka akan didampingi satuan polisi pamong praja. <br /><br />Ia mengaku merasa PLN bekerja sendirian dalam menangani gangguan terutama yang disebabkan layangan. <br /><br />"PLN tidak punya hak untuk menangkap orang yang melanggar perda, harusnya aparat pemda," kata Bambang Budiarto. <br /><br />Namun pihaknya akan tetap berkoordinasi guna mengatasi ancaman gangguan dari permainan layang-layang yang menggunakan kawat baja. <br /><br />Mengenai pelaku, ia mengatakan, kebanyakan yang ditemui masih anak-anak. <br /><br />"Sedangkan yang dewasa, sudah lari duluan. Ini juga menjadi dilema," kata Bambang Budiarto. <strong>(phs/Ant)</strong></p>











