Pusat dan Daerah Harus Singkron Terhadap Karhutla

oleh
Bahas Karhutla

SINTANG, KN – Kepala BPBD Ir. Bernhard Saragih menyampaikan bahwa sosialisasi Perbup Nomor 31 dan 18 sebenarnya sudah sangat masif karena kita sudah keliling ke 14 kecamatan, namun kita tahun ini akan melakukan revisi menyesuaikan aturan yang baru. Undang-undang memperbolehkan buka lahan maksimal 2 hektar, tetapi kalau sudah ada titik panas karena warga bakar ladang, ada perintah dari pusat kepada TNI dan Polri agar dipadamkan.

“Saya mendorong agar kita kirim surat ke pusat agar mencabut pasal yang menyebutkan kearifan lokal boleh membuka lahan maksimal 2 hektar di Undang-Undang Cipta Kerja. Sehingga tidak membuat dilematis buat TNI dan Polri” terang Bernard Saragih saat menghadiri pelaksanaan Coffee Morning Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Sintang pada Jumat, 23 Juli 2021 di Langkau Kita Rumah Dinas Wakil Bupati Sintang.

Lanjut Saragih, masyarakat komplain, saat mereka bakar ladang, dipadamkan. Padahal mereka mengakui sudah mengikuti perbup. Masyarakat bukan bakar hutan, tetapi bakar ladang mereka.

“Perbup ini, harus disampaikan ke pimpinan di level atas juga. Dan masukan dari semua Forkopimda kita akomodir. Soal hotspot di Ketungau Tengah dan Ketungau Hulu dua hari ini, camatnya langsung saya tanya dan mereka sampaikan bahwa masih sesuai perbup” terang  Saragih.

Saragih mengatakan, sejak 1 Maret 2021 saat ada kemarau kemarin. Kami langsung keluarkan Surat Keputusan Bupati Sintang tentang siaga kebakaran hutan dan lahan yang berlaku sampai 31 Desember 2021. Jadi kita memang siaga terus. Jangan sampai keluar SK tanggap daruratlah.

“Sosialisasi membuka lahan tanpa membakar agar terus menerus disosialisasikan kepada masyarakat agar mereka paham juga” pinta Saragih.

Kepala Bidang Sarana Prasarana Dan Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian Dan Perkebunan Kabupaten Sintang, Ir. Endang Gunawan, M.Si. menyampaikan ada dua substansi dalam perbup ini yakni membuka lahan dengan membakar dan tanpa membakar. Membakar ladang biasanya kalau kayunya sudah besar, dan membuka lahan tanpa membakar hanya bisa dilakukan kalau kayunya kecil atau masih semak-semak sehingga bisa menerapkan teknologi tanpa bakar.

“membakar ladang untuk mendapatkan abu memang untuk mengatasi ketiadaan kapur. Tanah kita ini sifatnya asam. Sehingga perlu adanya pengapuran dan dalam abu sisa pembakaran mengandung kalium dan kapur untuk menetralkan keasaman tanah. Pembukaan lahan tanpa bakar sudah kami sosialisasikan ke seluruh penyuluh. Kepada kelompok tani kami sudah melalukan sosialisasi soal perbup ini. kami siap melaksanakan perbup ini” terang Endang Gunawan. (SD)