Ratusan Pengemis Dan Anjal Berkeliaran Di Samarinda

oleh

Berdasarkan data Dinas Sosial Kaltim mencatat bahwa sedikitnya 618 gelandangan dan pengemis (Gepeng) serta anak jalanan (Anjal) yang berkeliaran di Kota Samarinda. <p style="text-align: justify;">"Dari 618 gepeng dan anjal tersebut, 95 persen di antaranya berasal dari luar wilayah Kaltim, misalnya dari Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan," kata Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kaltim M Berre Ali di Samarinda, Kamis. <br /><br />Dia menjelaskan bahwa pemerintah daerah dalam upaya mengatasi penyakit sosial itu secara rutin menggelar razia. <br /><br />Razia digelar setiap bulan selama satu tahun, Namun, melihat kondisi terakhir sehingga dalam waktu dekat ini akan dilakukan razia pada pertengahan Maret. Keputusan merazia para gepeng dan anjal itu berdasarkan pada hasil Rapat Kerja (Raker) yang dilakukan Dinsos Kaltim, <br /><br />Jumlah warga yang menimbulkan penyakit sosial itu dianggap lumayan mengkhawatirkan, mengingat jumlah penduduk Samarinda hanya sekitar 770.000 jiwa. <br /><br />Berdasarkan hasil rapat tersebut, Dinsos mengambil beberapa kesimpulan. Di antaranya mengimbau kepada masyarakat agar tidak memberi mereka uang di jalanan, di simpang empat lampu merah, maupun di tempat-tempat umum lainnya. <br /><br />Hal ini perlu disadari masyarakat karena semakin para anjal dan gepeng ini diberi uang, keberadaan mereka bukan berkurang, justru semakin bertambah banyak, karena mungkin para anjal dan gepeng mengajak teman-temannya untuk mencari uang di tempat yang tidak tepat. <br /><br />Dia juga menyarankan kepada masyarakat yang ingin bersedekah, sebaiknya diberikan kepada tetangga, tempat-tempat yang menampung sumbangan dan mengelola, sekaligus mendistribusikan kepada orang yang berhak menerimanya, seperti Badan Amil Zakat atau posko yang menerima sumbagan untuk korban tertentu. <br /><br />Dinsos bekerja sama dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang kemudian berkoordinasi dengan pihak Kepolisian dalam melakukan razia rutin yang akan dimulai pada Maret 2011. <br /><br />Pihaknya akan menempatkan mereka yang terjaring di penampungan khusus. Dinsos Kaltim akan menyiapkan anggaran untuk penampungan tersebut, sedangkan dari Pemkot Samarinda diminta partisipasinya memberi bantuan pembiyaan karena anggaran dari provinsi cukup kecil. <br /><br />Di penampungan tersebut, mereka akan diberikan pelatihan dan keterampilan tertentu, khusus bagi gepeng dan anjal yang berasal dari luar Samarinda akan dikembalikan ke daerah asal mereka. <br /><br />Dari hasil razia tersebut, pihak Dinsos akan mengidentifikasikan para gepeng dan anjal berdasarkan usia dan kesehatan. Tujuannya adalah agar mereka dapat diberdayakan, karena jika hanya dipulangkan mereka akan kembali lagi ke Samarinda. <br /><br />Dinas Sosial bekerja sama dengan Dinas Pendidikan akan memberikan paket belajar bagi mereka yang telah putus sekolah, yakni diikutkan ujian paket A, B dan C. <br /><br />Dari sisi medis, Dinas Sosial akan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan untuk memberikan surat rekomendasi ke Rumah Sakit Umum agar mereka diberi pengobatan gratis. <br /><br />Pemprov Kaltim menyediakan dana Rp70 juta untuk biaya mengembalikan mereka ke daerah asal Namun, diakui bahwa jumlah tersebut dinilai masih kurang ketimbang jumlah gepeng dan anjal yang akan dipulangkan.<strong> (das/ant)</strong></p>